Rasa Yang Tak Pernah Usai

Rasa Yang Tak Pernah Usai

  • WpView
    Reads 177
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Sep 3, 2023
Bagaimana rasanya menjadi angin yang meninggalkan helai daun? Atau kaki yang menciptakan jejak permanen pada tanah yang mengering? Atau tangan-tangan yang lewat untuk memetik bunga dari pohonnya? Bagaimana, Biru? Aku hanya tahu menjadi helai daun yang selalu merindukan angin. Aku adalah tanah yang mengering hingga retak, Dan pohon yang bunganya hilang terinjak-injak. Rasanya, Tak pernah usai. Copyright 2021 by Shinyrainy New version written 2023 by Shinyrainy
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DEMI APAPUN, BIRU NYERAH - NA JAEMIN [END]
  • peluk yang ku rindu
  • ZIARAH(END)
  • [Somewhere] Over the "RAINBOW" - COMPLETED
  • LAN
  • Dream of a Hospital [Hiatus]
  • Bukan Sekedar Pelampiasan Amarah.
  • My Junior My Love ✔️
  • OMBAK BERSORAK
  • Psikopat Digital? [End]

"Sudah Temaram. Kini di tulis sebuah Narasi tak beraturan oleh Biru. Kepada Ayah, Bunda dan mas Dipta." Bunda yang sudah lebih dulu mendahului kita, Ayah yang menjelaskan rasa kasih sayangnya lewat pukulan, dan mas Dipta yang selalu di sini menemani Biru hingga di penghujung nafas Biru. Kini sudah Biru temui Bunda kembali di dunia yang sama, pengobat rasa rindu. Kini kembali Biru rasakan pelukan yang sekian lamanya tidak Biru rasakan. Mas Dipta, rumah ke-dua Biru. Rumah itu kini berdebu, kosong dan tak terawat. Biru tinggalkan rumah itu dengan sedikit rasa enggan. Ayah, kini dia menjelaskan kasih sayangnya itu dengan pelukan, walau sekedar batu nisan. "Jika rindu temui dan peluk Biru, walau hanya sekedar batu nisan yang bisa di peluk." Copyright -JLilyaboo, 2023

More details
WpActionLinkContent Guidelines