Love: The Butterfly Effect [COMPLETED]

Love: The Butterfly Effect [COMPLETED]

  • WpView
    Reads 1,430,546
  • WpVote
    Votes 124,003
  • WpPart
    Parts 52
WpMetadataReadComplete Sat, Sep 23, 2023
Luna dan Aksa menorehkan kisah rahasia yang tidak diketahui oleh siapapun. Mereka dipertemukan pertama kali di sebuah liburan singkat selama satu minggu ke Malang yang dirancang oleh Lisa, kembarannya Luna. Selama dua puluh empat jam per hari dalam seminggu, di kota yang asing dan penuh wisatawan, di tengah dinginnya menunggu sunrise di Gunung Bromo, mereka saling mengenal dan merasakan kecocokan yang sulit untuk dirasakan dengan orang lain. Tujuh tahun setelah liburan di Malang itu, mereka kembali dipertemukan di resepsi pernikahan Lisa. Waktu telah mengubah jauh kondisi mereka. Tetapi, apakah waktu juga berhasil mengikis memori dan perasaan mereka?
All Rights Reserved
#62
loveatfirstsight
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SENJA DI PERSIMPANGAN DUA JALAN
  • Postscript
  • LOVE FOUND REGARDLESS
  • A Billion Desires (END)
  • CAPTEN BASKET MILIK SASKIA [TAMAT]
  • A Wedding Moment (END)
  • Reputation Rescue
  • AMNESIAL (END)

Senja Jakarta melukis langit dengan gradasi jingga dan ungu, sama absurdnya dengan perasaan Bulan saat ini. Di satu sisi, ada Saka. Lelaki dengan teduh seperti rembulan-ironis, mengingat namanya-selalu bisa membuatnya merasa aman, layaknya pulang ke rumah setelah seharian mengembara. Saka menawarkan ketenangan, percakapan mendalam tentang semesta dan seisinya, dan senyum yang mampu meluluhkan perlindungan Bulan tanpa perlu kata-kata. Di sisi lain, hadir Bara. Ibarat api yang membara-lagi-lagi ironis-hidupnya penuh kejutan dan adrenalin. Bersama Bara, Bulan merasakan hidup dalam film aksi tanpa akhir, penuh tawa riuh, spontanitas yang memacu jantung, dan mewujudkan mata yang menjanjikan petualangan tak terduga. Bulan menghela nafas di balkon apartemennya, aroma kopi Robusta bercampur dengan polusi kota. Dua hati menawarkan dunia yang berbeda, namun keduanya terasa begitu nyata dan memikat. Bukan sekedar suka, Bulan bisa merasakan getaran yang unik dari masing-masingnya. Saka dengan kelembutannya yang menenangkan, Bara dengan energinya yang membakar. Bagaimana mungkin ia harus memilih satu, ketika keduanya menawarkan kepingan yang hilang dalam dirinya? Kebimbangan ini bagai simfoni yang indah namun memekakkan, sebuah melodi rumit yang memaksa Bulan untuk menari di antara dua irama yang berbeda. Keputusan ini bukan tentang siapa yang lebih baik, tapi tentang hati mana yang benar-benar beresonansi dengan melodi jiwa. Dan saat ini, Bulan belum bisa mendengar jawabannya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines