World With No Rain

World With No Rain

  • WpView
    Reads 985
  • WpVote
    Votes 56
  • WpPart
    Parts 19
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Feb 6, 2022
Bumi mulai berubah menjadi abu. Samudra sudah enggan menunjukan kemegahannya. Pohon-pohon terpaksa tumbang menjadi tumbal peradaban. Generasi tua merindukan ketika mereka dapat berdansa riang di guyur hujan, sebagian menyesal dulu telah membenci hadirnya hujan. Kini di masa depan hujan akan sering turun di kota dengan pendapatan tertinggi. Berapa banyak kehidupan yang harus di korbankan untuk menciptakan kehidupan yang baru?
All Rights Reserved
#281
gore
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dfoll's [✓]
  • His Possession (Completed)
  • THE REBIRTH OF THE YOUNGEST
  • Bungsu?! (Boboiboy Solar) [TAMAT]
  • Another [END]
  • World Processor : Binatang yang Menjadi Tuhan (Noveltoon)
  • Vimana (TAMAT)

𝐈𝐥𝐮𝐬𝐢 𝐓𝐨𝐧𝐠𝐠𝐚𝐤 𝐍𝐚𝐛𝐚𝐬𝐭𝐚𝐥𝐚 𝐔𝐧𝐢𝐯𝐞𝐫𝐬𝐞 - Bagian Kedua "Whispers Of Plague; When Spring Brought Death" Musim semi datang tanpa warna. Bukannya bunga, yang bermekaran adalah bau besi dan daging yang mengering di celah puing-puing. Hujan turun, membasuh arang dan abu, tapi tak pernah cukup deras untuk membasuh dosa manusia. Di antara reruntuhan negeri yang dulu bernyanyi, kini hanya angin yang menjawab, menyusuri lorong-lorong kosong dan berbisik di telinga anak-anak yang tak sempat dewasa. Gadis itu berdiri membelakangi dunia. Rambutnya pendek, berantakan, dan gaun putihnya berubah menjadi abu, seperti harapan yang dicuri oleh perang yang bukan miliknya. Ia diam, tak menangis, tak bertanya-karena jawaban tak pernah datang bagi mereka yang tertinggal. Negeri ini tidak hancur karena bom. Bukan karena api. Bukan karena kelaparan. Negeri ini hancur karena dendam. Karena satu nama yang dipelintir jadi kutukan. Karena warisan sakit hati yang diturunkan lebih cepat dari warisan tanah. Dan anak-anak lah yang membayar semuanya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines