Pesan dari pesantren

Pesan dari pesantren

  • WpView
    Reads 31
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 4
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Dec 5, 2020
Teguh terlahir dari orang tua yang sangat kaya raya terkenal bandel dari sma, ketika kuliah makin terjerumus kehal-hal yang negatif narkoba dan seks. Ketika keluarganya mendapat sebuah masalah yaitu ayahnya tersandung kasus korupsi dan ditangkap. Menjadi beban buat keluarga dan si anak sehingga ibunya menjadi jatuh sakit kena strok. si anak makin jauh terlibat kriminal untuk memenuhi hasratnya memakai narkoba sehingga melakukan tindakan pencurian karena teman-teman kuliahnya sudah tidak mau berteman lagi. Dan akhirnya hijrah masuk ke pondok pesantren. Dari pesantrenlah sang pemuda ini bangkit menaja hidup baru dan akhirnya siapa sangka menjadi ulama terkenal. 30 okt 2020
All Rights Reserved
#383
terkenal
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Langit Untuk Laut
  • The Silent Code: Shadow of Betrayal
  • Go To Jannah With My Husband [ ON GOING ]
  • Senja Assyifa [COMPLETED]
  • Lelaki Untuk Kayla (Tamat)
  •  cinta berbeda manhaj [TAMAT]
  • Diantara 4 gus
  • Kepingan Kisah dalam Sejarah

Maura Elvaretta Zahira, gadis ceria berambut panjang yang selalu tampak bersinar di mata orang-orang. Di balik senyumnya, ia menyimpan luka masa kecil yang belum sembuh-kehilangan ayah yang ia cintai dan ibunya yang menikah kembali. Meski rapuh di dalam, Maura tumbuh menjadi pribadi yang ambisius dan pekerja keras. Ia ceroboh, sering gegabah, dan tak jarang memainkan rasa percaya dirinya untuk menutupi ketakutan yang tak pernah ia akui. Lalu ada Mahzan Rafiq Al Muaffaq-siswa kelas dua SMA yang dikenal pendiam, dan tenang. Putra pemilik pesantren dan seorang dokter ini tumbuh dalam nilai-nilai agama yang kuat. Ia merupakan murid kebanggaan guru. Mereka dipertemukan di SMA. Dalam riuhnya masa remaja, Maura jatuh hati lebih dulu. Ia tak menunggu waktu terlalu lama untuk mengungkapkan perasaannya. Tapi Mahzan menolak-bukan karena tak ada rasa, melainkan karena ia tahu, cinta tak cukup hanya dengan saling suka. "Aku bukan tak ingin, Maura. Tapi kita punya Tuhan yang mengatur waktu. Dan saat ini, belum waktunya kita jadi satu."

More details
WpActionLinkContent Guidelines