Rabuku Membiru

Rabuku Membiru

  • WpView
    Reads 65
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Thu, Nov 5, 2020
Aku belum bisa membuat orang tuaku bangga, tapi setidaknya aku harus berusaha tidak membuatnya kecewa. - Ilham Mualana. "Ibu udah capek ngerawat kita dari kecil, sekarang waktunya kita buat balas. Memang, itu kewajiban orang tua, tapi sebagai anak kita juga harus mikir! Jangan sampai Ibu lagi-lagi capek karena harus nafkahin kita." -Jihan Putri. ©Hak Cipta Cerita orisinil karya saya sendiri
All Rights Reserved
#30
kisahinspirasi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DI BALIK BAYANGAN
  • Sámpái Jumpá :) [Tamat]
  • TERLAMBAT [TAMAT]
  • Kumpulan Cerpen
  • Thank You Brother [Complete]
  •  𝟕 𝐑𝐚𝐠𝐚 𝟏 𝐑𝐚𝐬𝐚 || 𝐄𝐍𝐇𝐘𝐏𝐄𝐍 [𝐎𝐧𝐠𝐨𝐢𝐧𝐠]
  • PROBLEM || KIM SUNOO (REVISI)
  • Sang MATAHARI [Antologi Cerpen]

Kilatan lampu kamera memantul dari kristal lampu gantung lobi mewah itu, menciptakan binar-binar yang menari di wajahnya. Wajah yang kini menghiasi sampul majalah-majalah internasional, wajah kebanggaan Indonesia. Ia tersenyum bangga. "Jangan takut untuk memulai" ucapnya, bibirnya bergerak otomatis, namun pikirannya melayang jauh ke masa lalu. Saat kepalanya tertunduk, bayangan masa lalu berputar liar, seperti rekaman suara yang rusak. pujian-pujian yang selalu ditujukan pada adiknya, kritikan-kritikan yang selalu ditujukan padanya, dan keheningan yang menyakitkan saat ia mencoba meraih perhatian. Kenangan tentang keluarga yang selalu membandingkannya dengan adiknya, keluarga yang kini tampak begitu harmonis di hadapannya. #firstNovel

More details
WpActionLinkContent Guidelines