My Favorite Person

My Favorite Person

  • WpView
    Reads 34
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadComplete Tue, Feb 16, 2021
"lo itu cuma sampah disekolah ini dan masih untung sekolah ini masih terima murid acak-acakan kaya lo" sinis Azka sembari memegang sebotol air mineral. Adera tidak menanggapi dan berlalu pergi meninggalkan Azka yang geram karna ucapannya hanya dianggap angin lalu. "WOI CEWEK ANEH, LO GAPERNAH DIAJARIN ORANG TUA LO APA GIMANA? GUE BICARA SAMA LO BEGO!" tegas Azka hingga membuat beberapa murid melihat ke arahnya. Langkah Adera terhenti dan langsung menghadap kearah Azka yang berjarak sekitar 1 meter darinya. Perlahan kakinya melangkah menuju kearah Azka yang masih diam ditempat. "lo gatau apa-apa soal gue, jadi jaga bicara lo" tunjuk Adera tepat di dada Azka. "dan untuk orang tua gue, mau dia ajarin gue atau ngga itu bukan urusan lo!" timpal Adera dengan dingin. Kali ini Adera benar-benar pergi meninggalkan Azka yang terdiam ditempat sembari mencerna ucapan Adera. Adera benci jika ada orang yang ikut campur urusan pribadinya. Dan jika mereka masih ikut campur, gaada salahnya bagi Adera untuk bermain-main sedikit.
All Rights Reserved
#80
azka
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DANADYAKSA
  • ELZEAN [On Going]
  • A Bittersweet farewell  ( Sudah Lengkap Mari Di Baca)
  • Alex(A)
  • JAM 3 SORE
  • ADYRA
  • AKSARA ( ON GOING )
  • ice bear kesayangan
  • Arsyilazka
  • Don't Talk About Money

Danadyaksa adalah laki-laki dengan hidup yang sangat sederhana. Cibiran dan hinaan sering didapatkannya dari teman-teman satu sekolahnya terutama perempuan karena menggunakan sepeda motor beat berwarna hitam setiap berangkat sekolah. Orang tuanya meninggal ketika ia masih duduk di bangku SMP, meninggalkan dua orang adik yang harus Aksa hidupi. Menjadi Ayah, Ibu sekaligus kakak di usianya yang begitu belia bukanlah hal yang mudah. Aksa mulai bekerja semenjak orang tuanya meninggal untuk memenuhi kebutuhannya serta kedua adiknya yang masih kecil. Menjadi kuli bangunan, penjaga toko, pelayan restoran dan berbagai pekerjaan serabutan lainnya Aksa lakukan. Aksa pernah berkata: "Nggak papa gue nggak punya masa depan yang terjamin, tapi adek-adek gue harus punya masa depan. Harus jadi orang besar." Aksa tidak pernah memikirkan perihal cinta. Yang ia pikirkan hanyalah adik-adiknya. Bagaimana masa depan adiknya, bagaimana mendidik adiknya dengan baik dan bagaimana adiknya bisa menikmati hidup seperti anak lainnya yang penuh kebahagiaan dari keluarga. Namun, Aksa mulai tertarik dengan cinta semenjak ia mulai mengenal Alsava. Gadis yang dikenalnya sejak insiden Aksa yang tanpa sengaja menginjak kacamata Alsava. Tapi rasanya sangat tidak mungkin untuk memiliki Alsava yang latar belakang ekonominya sangat jauh beda dengan dirinya. Apakah mereka bisa bersama? Mungkin. Atau justru, tidak akan pernah bersama. ** "Sa, gue boleh suka sama lo, nggak?" "Tunggu gue sukses." ** "Gue kalo mau suka sama Alsava juga harus sadar diri. Gue orang nggak punya. Beda sama dia." ***

More details
WpActionLinkContent Guidelines