Lintas Waktu

Lintas Waktu

  • WpView
    Reads 27
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Dec 11, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
Jln.Merah pukul 12:00 suasananya sama seperti mendung kala pukul 16:00 sore hari.jalan ini begitu sejuk dengan pohon besar di kanan-kirinya di lengkapi dengan bangunan tua ala belanda,bangunan bercet putih yang lusuh,pintu kayu yang tak terawat dan pagar besi yang berkarat menghiasi sepanjang Jln.Merah. Sampai lah mereka di Sebuah Rumah yang bertuliskan Toko Kr.Amat di depan rumah ini banyak sekali daun-daun kering yang berjatuhan dan lembap karena terkena hujan,kanan-kiri pintunya terdapat pohon beringin dan tepat di depan pintu terdapat lorong yang terbuat dari bambu kuning sebagai penyambut,papan tulisan kayu juga sudah lapuk dan miring,benar-benar seperti tidak ada apa-apa di dalamnya (sangat sepi). Yuk,langsung aja di baca!
All Rights Reserved
#6
1990
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • BACK TO FRIEND | JUNGHWAN X HAERIN (TAMAT)
  • Hujan dan Sebuket Dandelion
  • ALEYA~~
  • Ctrl+P My Heart
  • Janji yang Menemukan Rumah
  • 101 Days Before In January
  • Mianhae Hyung || So Junghwan {SEDANG DIREVISI}
  • Destiny ✓
  • KKN: Kutukan Kampung Neraka
  • Kost Delima Merah [97 Line]

Bagi banyak orang, Teresa dan Lionel tak lebih dari dua orang asing yang kebetulan duduk di kelas yang sama-tanpa kisah, tanpa kenangan. Tapi di balik diamnya mereka, tersimpan cerita yang pernah begitu hidup di kota kecil jauh dari Jakarta. Dulu, mereka adalah sepasang kekasih yang saling menggenggam erat di Inggris, menjadikan satu sama lain rumah dalam dunia yang asing. Namun, tidak semua kisah indah berakhir bahagia. Sebuah pertengkaran hebat memutuskan benang di antara mereka. Lionel kembali ke Jakarta lebih dulu, meninggalkan Teresa dalam ketidakpastian yang mengikis perlahan. Sejak hari itu, keduanya tak pernah saling mencari, seolah ingin berpura-pura bahwa cinta itu tak pernah ada. Dua tahun berlalu. Takdir mempertemukan mereka kembali-bukan di kedai kopi tempat mereka biasa tertawa, bukan di taman tempat mereka dulu saling menatap, tapi di sekolah yang sama, di kelas yang sama. Kini mereka berdiri di bawah atap yang serupa, namun dengan jarak yang jauh lebih dingin dari sebelumnya. Mereka tidak berbicara. Tidak saling menyapa. Hanya tatapan yang sesekali bertabrakan-penuh amarah yang tertahan, rindu yang tak diakui, dan bayang-bayang masa lalu yang belum benar-benar mati. Mereka mencoba menjadi asing, tapi hati tidak pernah bisa benar-benar lupa. Dan pertanyaannya kini sederhana: apakah kisah ini akan berakhir sebagai dendam yang terus tumbuh, atau diam-diam menjadi awal dari pertemuan yang tak pernah mereka duga?

More details
WpActionLinkContent Guidelines