Lintas Waktu

Lintas Waktu

  • WpView
    Reads 27
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Dec 11, 2022
Jln.Merah pukul 12:00 suasananya sama seperti mendung kala pukul 16:00 sore hari.jalan ini begitu sejuk dengan pohon besar di kanan-kirinya di lengkapi dengan bangunan tua ala belanda,bangunan bercet putih yang lusuh,pintu kayu yang tak terawat dan pagar besi yang berkarat menghiasi sepanjang Jln.Merah. Sampai lah mereka di Sebuah Rumah yang bertuliskan Toko Kr.Amat di depan rumah ini banyak sekali daun-daun kering yang berjatuhan dan lembap karena terkena hujan,kanan-kiri pintunya terdapat pohon beringin dan tepat di depan pintu terdapat lorong yang terbuat dari bambu kuning sebagai penyambut,papan tulisan kayu juga sudah lapuk dan miring,benar-benar seperti tidak ada apa-apa di dalamnya (sangat sepi). Yuk,langsung aja di baca!
All Rights Reserved
#51
2017
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Hujan dan Sebuket Dandelion
  • RUMAH BERATAP BOUGENVILLE
  • Gotta Be You
  • SMARA DIKTA
  • Destiny ✓
  • Kost Delima Merah [97 Line]
  • Kosan Malapetaka
  • Lara yang tak kunjung USAI ||•ondah•||
  • ASMARALOKA [MEANIE] ✔
  • Ctrl+P My Heart

Ini tentang keluarga. Juga tentang hujan yang indah. Seperti halnya Naradra Carolina Abastra. Penyuka kaos oversize juga celana training yang sedikit kepanjangan. Gadis biasa-biasa saja dengan rambut panjangnya yang tergerai bebas. Ketika rintik-rintik hujan saling berjatuhan hingga berubah deras. Dia selalu ada untuk melihatnya menyambut bumi. Menciptakan suara melodi yang indah, dibalik awan gelap. Begitu juga dengan bunga dandelion, indah dengan caranya sendiri. Terbang bebas tanpa takut terlihat berbeda. Karena itu Nara suka dengan keduanya. Namun kekakuannya hanya satu, yakni seorang Damantara Gusti Pangestu. Lelaki dengan rambut kecoklatan dan kacamata bulat yang bertengger sempurna menghiasi wajahnya. Bukan laki-laki culun juga berandal. Gusti selalu berhasil menjungkir balikkan hatinya. Dengan mata hitamnya yang memikat. Sayangnya, dia bergerak untuk sebuah rahasia kelam. Namun, jika waktu terus mengikis rahasia yang selama ini mereka tutup. Apakah Tuhan masih memberi kesempatan untuk bersama? Atau justru mereka sendiri yang akan pergi, meninggalkan jejak yang kian dalam? __________________________________________________ Gusti menghela napas. "Mau tau sesuatu?" matanya menatapku begitu serius. "Sesuatu?" Laki-laki itu mengangguk. "Tentang semua ini, yang mungkin buat lo risi?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines