Story cover for Unfinished Between Us by iaminnaya
Unfinished Between Us
  • WpView
    LECTURES 32
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Chapitres 2
  • WpView
    LECTURES 32
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Chapitres 2
En cours d'écriture, Publié initialement nov. 04, 2020
Contenu pour adultes
Tabrakan itu seharusnya biasa.

Tapi tidak ketika itu melibatkan Quin dan Bryan-dua orang dengan sejarah yang belum selesai.

Dipaksa bekerja bersama, dipertemukan setiap hari, dan terus-menerus dihadapkan pada masa lalu yang mereka pura-pura lupakan.

Antara ego, gengsi, dan luka lama-
siapa yang akan menyerah lebih dulu?
Tous Droits Réservés
Inscrivez-vous pour ajouter Unfinished Between Us à votre bibliothèque et recevoir les mises à jour
ou
Directives de Contenu
Vous aimerez aussi
Vous aimerez aussi
Slide 1 of 10
When his name is cover
Scream my name bryce(End) cover
STAY WITH PAST cover
SEUL'S cover
Backstreet - Markhyuck ||• End cover
Cerita Adit & Dimas cover
DION(End) cover
Last Hope cover
The First, Not the Last cover
Alone [END]✓ cover

When his name is

22 chapitres En cours d'écriture

sinopsis: "Aku milikmu, ingat itu." Aku bertemu dengannya-dan saat menatap matanya, semua luka lama terasa seperti baru kemarin. Kami bukan orang asing. Kami adalah dua jiwa yang pernah saling memiliki, lalu membuang ribuan kenangan dan mimpi seakan semuanya tak berarti. His name is Benedictus. "Dia adalah masa laluku... dan juga yang terakhir bagiku," ujar Angelz saat bicara pada Chris-teman yang selama ini diam-diam mencintainya dari kejauhan. Chris tahu, cintanya mungkin tak akan pernah terbalas. Bukan karena dia tak cukup baik, tapi karena bayangan masa lalu Angelz terlalu kuat untuk dilupakan. Lalu, ketika masa lalu dan masa kini bertabrakan, akankah Angelz tetap memilih luka yang familiar... atau cinta yang diam-diam tumbuh dengan tulus? ________________________________________ prolog: Aku lupa kapan terakhir kali memeluknya-mungkin saat langit masih tahu cara bersinar di mataku, sebelum semua berubah jadi abu-abu. Dia berdiri di depan ku sekarang, seperti mimpi buruk yang kembali mencari tempat tinggal. Tapi bukan karena aku takut... aku hanya belum siap mengingat betapa dalamnya luka yang pernah kami ciptakan bersama. Namanya Benedictus. Dan sekali lagi, dunia menuntunku ke arah yang selama ini ku coba lupakan. "Angelz," suaranya tak berubah. Aku menunduk. Karena sekuat apa pun aku menyangkal... sebagian dari diriku masih miliknya.