PRASASTI
  • WpView
    Reads 195,096
  • WpVote
    Votes 17,916
  • WpPart
    Parts 68
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jan 23, 2022
"Ranggadewa Jnanaloka Ratuning Puranggahu Manggala Jnanawangsa Aben sirna krudating bhuwana Ing kedhaton Purana" Kalimat itu terpahat pada sebuah batu besar di tepi sungai pada tempuran yang mengalir tenang. Namun itu bukan kalimat pemujaan kepada sang raja melainkan sebuah kutukan.
All Rights Reserved
#443
fiksisejarah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu
  • Love that grows in the kingdom
  • [COMPLETED] Only Married Jiāngjūn
  • Pendekar Dari Pajajaran
  • THE LEGEND OF RED EYES
  • [END] Jiao Jiao di atas
  • Cemoro Geni [TAMAT]
  • [END] Meeting the Lord

"Ayah!! Betapa teganya kau lakukan itu padaku!" isaknya. Tangan resi Wisrawa terjulur. Ingin rasanya memeluk putra kesayangannya. Namun rasa malu yang sangat menghalangi laju tangannya. "Ayah tidak berani meminta maaf padamu, nak. Ayah berdosa besar pada kalian." katanya lirih. Air mata menetes dari matanya. "TIDAAKK!! Bunuh saja aku, ayah! Oh, masihkah aku bisa memanggilmu ayah setelah perbuatan bejatmu padaku ?" Resi Wisrawa terkesiap mendengar kata-kata Danaraja. Ia menunduk. "Ayah tidak berhak mendapat panggilan ayah darimu. Ayahmu kotor dan bernoda.." "Bagus kalau kau mengakuinya !! Kalau begitu kita bertarung secara satria. Aku bukan anakmu, kau bukan ayahku. Ayo, keluarkan kesaktianmu! Aku tidak takut padamu !" Resi Wisrawa terkejut walaupun dalam hati ia sudah memperkirakan respons anaknya ini. Danaraja menghunus pedangnya. "Ayo kita bertarung ! Kau atau aku yang mati!" Ia menyerang ayahnya. Resi Wisrawa mengelak. Danaraja menyabetkan pedangnya kekiri kekanan, ia terus memburu kemana ayahnya pergi mengelak. Energi murni yang keluar dari tangannya menderu-deru dengan kekuatan berkali lipat akibat amarah yang membumbung tinggi. Kepalanya serasa terbakar oleh emosi. Ia merasa tidak hanya kehilangan kekasih yang dicintainya, tapi juga harga dirinya sebagai laki-laki. __________________________________ Betapapun sempurnanya manusia, manusia tetap manusia yang memiliki kelemahan. Ia seorang pertapa tua yang mengikuti sayembara seorang putri cantik untuk putranya. Tapi pergaulan erat antar laki-laki dan perempuan membutakan pikiran dan nafsu. Kisah cinta bercampur dengan ilmu falsafah tinggi antara kedua manusia yang nantinya melahirkan manusia angkara murka yang paling terkenal di dunia, Rahwana.

More details
WpActionLinkContent Guidelines