We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Azelia
  • WpView
    Reads 64,114
  • WpVote
    Votes 3,247
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Feb 10, 2022
WpInfo
Fiction
Romance
"Kak, Aku hamil."ucapnya dengan sendu. "Jangan gila! Aku tidak menginginkan bayi itu!" "Kau harus bertanggung jawab, Aku hamil anakmu. Dia darah dagingmu."ucapnya sembari menangis "Aku tidak akan bertanggung jawab, aku tidak menginginkannya,"ucap lelaki yang ada dihadapan gadis malang itu. "Harusnya Aku tidak menerima taruhan sialan itu!"teriak pemuda itu "MAKSUDMU TARUHAN APA?!"teriak gadis itu meminta penjelasan "Taruhan untuk mendekatimu, Kau itu tak ada bedanya dengan barang. Kau hanya mainanku, jadi pergilah Aku tak menginginkanmu atau pun bayi sialan itu!" #1 ceo #2 biyan #2 Azelia #2 Kehilangan #2 Pahit
All Rights Reserved
#43
mba
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ISTRI SETELAH CINTA
  • RIANA
  • ADELINE : Live Again To Change The Future
  • Matahari Di Langit
  • DESTINY OF MY LIFE (END)
  • Cakra's Last Embrace. | End |
  • Not a dream wedding
  • Maybe Tomorrow : Penyesalan (On Going)
  • Pregnancy By Accident ✔️

"Kamu harus merencanakan kehamilan segera setelah menikah dan memiliki anak secepat mungkin." Yerin Fadhillah mengangguk tanpa gentar. Dia tahu-cinta tak pernah benar-benar jadi bagian dari kesepakatan ini. Dia menerima syarat itu tanpa ragu. "Kamu yakin bisa menjalaninya?" Suara pria itu dalam, nyaris berbisik, namun menyisakan gema yang menyayat. "Aku akan berusaha. Setiap hari. Sepenuh tenaga." "Ya, aku bisa melakukannya." Yerin berpikir bahwa dengan banyak usaha, seorang anak akan segera hadir diantara mereka. Dia berharap cinta suaminya akan semakin dalam ketika mereka memiliki anak. Dia percaya bahwa tidak akan ada lagi kehidupan yang sepi dan menyesakkan setelah mereka punya anak. Namun, harapan itu hancur lebur setelah dua tahun pernikahan mereka. "Maaf... dengan kondisi seperti ini, peluang untuk bisa hamil sangat kecil." Suara dokter tenang, seakan tak sadar dia baru saja menjatuhkan palu pada harapan terakhir Yerin. Saat itulah dunianya menjadi sunyi dan hening. Tak ada tangis.... Tak ada teriakan.... Hanya suara deru napasnya sendiri yang tidak teratur, tiba-tiba terasa terlalu berat untuk dilanjutkan. ISTRI SETELAH CINTA

More details
WpActionLinkContent Guidelines