We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Every Night In The Room (Hiatus)

Every Night In The Room (Hiatus)

  • WpView
    Reads 172
  • WpVote
    Votes 25
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Sun, Jun 30, 2024
WpInfo
Fiction
Fantasy
Melepas kenang di masa lalu 'tak begitu menyulitkan di awal kepindahan keluarga Asran dan Asrun. Anantara makhluk Tuhan yang bagai pinang dibelah dua tersebut, 'hal baru' ditanggapi bertolak belakang. Meskipun demikian, takdir baru sedang menunggu dengan tenang dalam masa penantian yang panjang. Rumah baru kini bukan sekedar suasana baru, namun arah kehidupan yang terprediksi mengalami anomali. Lebih dari itu, dengan dorongan asa dari dalam dan luar, kian menopang tekad yang tajam untuk ikhlas mengikuti arus perjalanan menembus ruang dan waktu. Rahasia yang terkubur dalam jeruji waktu, terburai pula belenggu besi penghalangnya. Memang sudah saatnya. Tidak dapat dihentikan oleh makhluk apapun.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Good Doctor
  • Telepon Benang
  • KIDUNG JAYANEGARA: Nyanyian Jiwa yang Belum Usai
  • RENJANA⚜ ✔
  • Echoes of the Forgotten Time
  • LANGIT MAJAPAHIT
  • The Seekers of The Lost Hope | END

Lara dan emosi telah terkubur dalam. Meninggalkan kenyataan akan kedudukan, keluarga dan kenangan. Dia telah melihat bagaimana kehidupan dulu, meski sementara lalu kembali terhapus setelah bangun kembali. "Setidaknya aku akan berusaha bahagia lagi. Meski mungkin sulit." Bibirnya tersungging meski tak mendapatkan emosi dari ingatan terdahulu. "Terimakasih Dion dan Arsena. Kapal layar telah sampai di tujuan, kini giliran kapalku yang berlayar di semesta luas ini." Dipandangnya kedua sosok itu lalu membungkuk memberikan salam terakhir. ... Terbangun dari sisa mimpi, hanya nama samar Arsena yang masih lekat. Ia sedikit takut lupa. Hari masih gelap, jika kembali tidur mungkin akan benar-benar lupa sisa mimpi ini. "Huahh, alat tulis. Mesti harus ada bekas mimpi." Ujarnya usai menguap lebar. Menengok ke kiri dimana nakas berada, namun tak satupun benda untuk menulis berada. Sementara hasrat kembali tidur kian menguasai. Jujur saja bagi buta ini amat dingin hawanya, sehingga ia menyerah terhadap kantuk. Karya ke tiga nih, semoga menghibur 😁 Vote dan kasih komen pliss.

More details
WpActionLinkContent Guidelines