Aletta
  • WpView
    Reads 63
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Dec 5, 2020
[Warning Ini Cerita Dari Imajinasi Gw] Tangisan hanya mengacaukan segalanya, tapi senyuman membuat mereka yakin aku tegar. Aku tau rumah ini sebagai siapa, tapi tolong beri sedikit waktu saja agar aku bisa bernafas dengan tenang. Setiap anak ingin keluarga yang sempurna, tapi tidak semua anak memilikinya. Kalian harus tau! Tidak semua anak suka di tanya mengenai orang tua. Terkadang aku sedih ketika ada orang yang menceritakan kebahagiaan suasana keluarganya. Mungkin aku iri. Terkadang aku merasa iri ketika melihat orang lain dapat bahagia bersama keluarganya, sementara aku hanya bisa tersenyum disaat hati ini terluka. Aku terlalu haus kasih sayang, perhatian, hingga aku lupa bagaimana harusnya aku bersikap. Karena broken home itu hanya mencari kesenangan diluar rumah. Baginya rumah adalah tempat yang paling tidak nyaman. Menjadi utuh lagi adalah impian mereka yang broken home. Kadang kecerian itu kita dapat di luar rumah. Bukan di tengah keluarga yang hanya mementingkan dirinya masing-masing. Sudah Siap Kah Kalian Membaca Cerita ini Kalo kalian siap jangan lupa vote dan komennya teman teman agar kita saling menghargai:)
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • RUANG DEPRESI [ END ]
  • OUR PROMISE
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • 24/7 (HIATUS)
  • ARGALAND
  • Rintik Hujan
  • REGRET [END]
  • Saat Semua Orang Berpaling
  • Gadis Tteokbokki & Cowok Mochaccino (DITERBITKAN)

"Tolong ceritakan padaku, bagaimana rasanya mempunyai keluarga yang utuh? Tolong jelaskan padaku, bagaimana rasanya hidup tanpa setitik luka yang menerpa! Aku ingin bahagia seperti mereka! Walau hanya satu kali saja!" Cinta dan Luka sama-sama Zeline rasakan, tetapi luka itu hadir lebih unggul daripada rasa cinta yang nyata, bukan hanya omong kosong tidak berguna saja. Ruang Zeline sepi, ruang Zeline kelam, bantu Zeline keluar dari ruang depresi. Zeline tidak pernah merasakan, bagaimana rasanya disayang, dimanja, dan diperhatikan. Hari demi hari, detik demi detik, yang Zeline nanti yaitu perdamaian kedua orang tuanya. Zeline merasa banyak kurangnya, Zeline menginginkan ketulusan yang sebenarnya, bukan hanya kata permainan perasaan saja. Sejak kecil, beranjak remaja Zeline menyaksikan perseteruan itu masih saja terasa. Rasa sesak terasa di dalam dada, seketika atmanya mulai merasa bahwa diri ini tidak ada apa-apanya. Bahkan sampai nafas berakhir sekalipun, Zeline akan terus berusaha untuk menerimanya, sampai Sang Maha Kuasa berkata. "Waktunya beristirahat dengan tenang." Ditulis oleh: CALGHIFARI Start: 25 November Finish: (?)

More details
WpActionLinkContent Guidelines