Bagaimana kabarnya?
Aku tahu semua ini tidak mudah,
bicara tentang rasa memang tidak pernah ada habisnya.
Bagaimana rasanya kehilangan?
Tentu, menyedihkan, menyebalkan. Aku kira, kamu dan aku masih punya banyak waktu untuk dihabiskan bersama. Ternyata, semesta tidak mau melihat kita bersama lebih lama. Iya, aku tahu. Semesta, selalu punya cara untuk memisahkan dan menciptakan perpisahan. Sehebat apapun rasa yang kita punya, sekuat apapun kamu dan aku mempertahankan agar tetap bersama, kalau semesta bilang enggak, ya enggak akan bisa. Kamu dan aku itu; Sementara. Bukan Selamanya. Mungkin begitu banyak yang digariskan semesta untuk kita. Sekarang sudah jelas.
Dear Semesta,
terimakasih sudah mempertemukan dan memisahkan.
Dear Semesta,
terimakasih sudah menitipkan rasa, meski kisahnya sudah tiada, rasa ini masih nyata adanya
Ku tulis sebuah pengakuan
Tentang kerinduan yang masih membungkam
Masih terasa nyata meski rupanya sudah terlalu fana
Coretan kehampaan diri masih melekat
Menggambarkan apa yang sudah terlalu sesat
Namun tak mau pergi dan masih berkarat
Ku tuai sebuah rasa yang beralih duka
Mengajarkan diri, bahwa yang bukan jalannya akan pergi sesuai alurnya
Kesadaran diri yang memapah langkah untuk beralih
Berdamai dengan kenyataan
Bahwa yang ada akan tiada pada masanya
🌹Typo masih banyak karena belum di revisi🌹