We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Bad Dream on Reality

Bad Dream on Reality

  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Sep 15, 2022
WpInfo
Fiction
Fantasy
Ini ceritanya masih belajar,, baru nyoba ajah,, but this story is orisinil karya sendiri... ____ ______ ________ Di jalanan yang ramai, ia hanya bisa kesepian. Memendam rasa sakit yang tak akan pernah bisa ia lupakan. Matanya bengkak seperti lemon berwarna merah karena air matanya berlaku layaknya air bah yang turun tak kunjung henti. Walau seluruh pancaindranya masih normal tapi ia tak bisa merasakan apa pun, tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, bahkan tidak bisa mencium aroma makanan-makanan lezat di festival kali ini. Yang bisa ia rasakan hanyalah hatinya yang teramat sakit. Angin malam yang dingin seakan tak bisa mengusiknya yang sedari tadi berdiri murung di tepi jembatan seperti patung es yang membeku kedinginan. Tangannya menggenggam erat-erat pagar besi jembatan sampai jari tangannya memutih. Sedangkan air matanya yang senantiasa meleleh membasahi wajahnya yang kian tirus macam tak terurus. Ia menatap kosong ke bawah permukaan sungai yang seperti kaca berukuran besar memantulkan cahaya-cahaya dari kerlap-kerlip lentera yang diterbangkan di festival kali ini. Sangat indah sampai ia ingin menghentikan keindahan itu agar dunia bisa memahami sedikit saja dari pedih di hatinya. Mungkin jika ia terjun bebas dari tanpa pengaman yang membuat permukaan air beriak maka orang-orang itu akan berhenti menebar raut kebahagiaan. Dan dirinya yang jatuh tenggelam akan mati tanpa harus merasakan sakit yang selama ini dideritanya. Tidak ini tidak boleh terjadi, dia harus bangkit dari mimpi buruk ini dan menyongsong cahaya baru. Ia membulatkan tekadnya ia bukan lagi gadis yang baik hati dan senantiasa mengalah. Kini ia hidup untuk dirinya sendiri. Dan saatnya melakukan apa yang seharusnya dilakukan.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • NOESIS [END]
  • Poison Of Love
  • FLATTERY
  • Senja Di Kegelapan Malam [HIATUS]
  • Cantikku Dibalik Kacamataku [On Going]
  • TIME will TELL {On Going}
  • Cermin Ke Dunia Aetheria

Setiap pagi dimulai dengan nada yang sama. Nada yang tidak asing, tapi juga tak pernah benar-benar diingat. Seperti dengung lembut yang tumbuh dari dinding, atau bisikan yang terlalu sopan untuk membangunkan siapa pun. Anak-anak terbangun perlahan. Mereka tahu kapan harus duduk, kapan harus tersenyum, dan kapan harus mengatakan "terima kasih" pada sesuatu yang tidak pernah mereka lihat. Langit tak pernah berubah. Lantai tak pernah berdebu. Hari-hari disusun rapi seperti barisan seprai yang terlipat. Tidak ada yang jatuh. Tidak ada yang hilang. Kecuali... sesuatu yang tidak pernah disebut. Di antara semua yang seragam, ada satu yang tidak persis cocok. Seorang anak perempuan yang terlalu tenang, terlalu sering diam di tengah keramaian, dan matanya-selalu mencari sesuatu yang tidak terlihat orang lain. Serene. Ia menulis hal-hal kecil di balik kertas tugas. Hal-hal yang tidak pernah diajarkan, dan tidak boleh ditanyakan. Ia mencatat kapan musik terasa sedikit lebih sendu, kapan suara langkah di lorong tidak cocok dengan jumlah kaki. Orang bilang Serene hanya anak yang suka berpikir. Anak yang tidak pernah nakal, tidak pernah melawan. Tapi mereka tidak tahu... diam itu kadang bukan berarti lupa, melainkan mengingat terlalu banyak. Dan pagi-pagi di tempat ini, yang seharusnya hangat dan tenang, perlahan mulai terdengar berbeda- bukan karena ada suara baru, tapi karena seseorang mulai benar-benar mendengarkan. [Update setiap Malam] 《DISCLAIMER》 [DON'T COPY PASTE MY STORY!!] *Aku butuh sebuah 🌟 agar mereka yang tak terlihat tidak mendekat * Start = 14 mei 2025 Finish =

More details
WpActionLinkContent Guidelines