The Miracle

The Miracle

  • WpView
    LECTURI 1,965
  • WpVote
    Voturi 418
  • WpPart
    Capitole 18
WpMetadataReadPentru adulțiÎn curs de desfăşurare
WpMetadataNoticeUltima publicare mar, mar 1, 2022
Setelah kepergian ayah tercinta, seharusnya membuat Freya Jovanka merasa terpuruk karena satu-satunya orang yang berpengaruh dalam hidupnya telah pergi. Tetapi sepertinya Tuhan masih sangat menyayangi Freya. Kehidupannya amat sangat damai sentosa ditambah segala sesuatu sangat mudah ia dapat, rumah, uang dan orang-orang yang mengaku sebagai pelayanpun ada. Walau tidak mengerti dengan perubahan hidupnya sendiri, Freya tetap menjalaninya dengan senang hati. Sampai akhirnya seorang pria memberikan sebuah surat dengan tanda tangan sang ayah. Freya harus menikah dengan pria itu untuk mewujudkan keinginan terakhir ayahnya yang sudah meninggal. Sejujurnya Freya tidak masalah untuk menikah. Toh, umurnya sudah 28tahun tapi masalahnya pria pilihan ayahnya itu adalah adik tingkat Freya saat di perkuliahan!! Jadi haruskah Freya menyebut ini keajaiban atau musibah? _________________ Publish: 15.11.20
Toate drepturile rezervate
Alătură-te celei mai largi comunități de povestiri din lumePrimește recomandări personalizate de povești, salvează-ți favoritele în biblioteca ta și comentează și votează pentru a-ți dezvolta comunitatea.
Illustration

S-ar putea să-ți placă și

  • As Possible
  • Langkah Dalam Kebetulan
  • Suck It and See (Complete)
  • Dari Askar Untuk Alisha [END]
  • COUPLE IN LAW [COMPLETED]
  • The Best Man Ever
  • A Thesis of Marriage ✔️
  • Merah Jambu [✓] PRE-ORDER
  • Djournal Town (Done)

Masa tahun akhir masih berkisah seputar itu saja. Ify harus segera merampungkan masa studi nya dan beranjak dari kampung halamannya. Ia malas mendengar ocehan sanak saudaranya yang terus saja bergunjing tidak jelas. Ia memang, dia suka dirumah. Jarang keluar dan itu sudah terjadi sejak ia menginjakkan kaki di tempat ini. Bersosialisasi pun bisa dibilang sering tidak sering. Ia tak ingin merepotkan diri dengan cokolan tak berfaedah. "Kalau harus memilih, gue lebih pilih gak tinggal disini. Demi Tuhan!". "Kenapa sih Fy? Rumah itu kan punya mama lo". Iya Ify membenarkan hal tersebut. "Gak suka gue! Keluarga gue itu kebanyakan gibah nya! Hal gak penting aja diomongin. Malesin banget!". Di seberang sana teman satu PL nya terkekeh. Ia pernah mendengar cerita ini sebelum nya. "Trus lo mau nya kemana?". "Jauh dari sini deh! Ikut suami aja. Tapi gak dirumah mertua juga kali!". Kali ini Via terbahak. Rumah mertua memang momok yang menakutkan. Begitulah, Ify harus memilih berjalan dengan masa lalu yang masih terngiang di kepala nya atau berjalan angkuh dengan masa depan yang belum tau akan seperti apa menurutnya.

Mai multe detalii
WpActionLinkLinii directoare referitoare la conținut