"Pada setiap bentuk bangunan, jadilah air sebagai pengokohannya." Kalimat itu sering Hulya gumamkan, sebuah filosofi tentang kekuatan yang tenang namun tak terpatahkan. Sebagai anak tunggal, dunia Hulya awalnya adalah bangunan yang megah dan nyaris sempurna. Namun, segalanya runtuh saat Allah mengambil kembali seluruh harta paling berharganya. Kecelakaan tragis itu bukan hanya merenggut nyawa kedua orang tuanya, tapi juga memaksa Hulya mengubur setiap rencana masa depan dan cinta yang baru saja mulai membumi. Kehilangan tidak pernah mengetuk pintu untuk meminta izin, dan Hulya tidak pernah siap. Ia kini berdiri di titik nadir, dipaksa melepaskan segalanya-sebuah pelepasan yang ia sendiri tak tahu apakah itu keikhlasan yang tulus atau sekadar keterpaksaan karena tak punya pilihan lain. Jika kesempatan kedua itu nyata, ia akan dengan senang hati menukar seluruh isi dunia hanya untuk kembali mendengar suara doa ibu atau merasakan tepukan di bahu dari ayahnya. "Lalu, apa yang harus kulakukan? Menyemai luka ini hingga waktu memudarkannya? Adakah ganti yang lebih sepadan dengan kehilangan mereka?" Pertanyaan itu terus berputar, bergema di kepalanya berkali-kali tanpa jawaban. Hanya lelaplah yang akhirnya menjadi pelarian sementara dari kenyataan yang perih. Dan setiap kali ia terbangun, jawaban pahit itu tetap sama: "Nggak pernah ada."
More details