The Little Diary

The Little Diary

  • WpView
    Reads 15
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Dec 5, 2020
Maria Qibtiyah (14 tahun) tetap mampu menikmati kehidupan layaknya remaja seusianya, meskipun orang tua bukan dari kalangan berada. Saat ayahnya tertimpa musibah kecelakaan, Maria sebagai anak sulung, harus membantu sang ibu untuk tetap menyalakan api di dapur rumahnya juga biaya sekolah dirinya dan adiknya. Sekali waktu Maria lelah dan ingin berhenti sekolah. Namun, ia berhasil bangkit dan bersemangat kembali. Ujian kembali datang, ayahnya meninggal. Mampukah Maria bangkit kembali? Berhasilkah Maria menunaikan janjinya kepada sang ayah?
All Rights Reserved
#5
maratonteenlitae
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kau Rumahku
  • Sound Of Heart
  • Happiness
  • Terlalu Peka
  • After Summer Rain (TERBIT)
  • Express Love
  • Reasons for Falling in Love [SELESAI]
  • Luka Dan Bahagia 'NATHAN
  • Sebait Luka untuk Sebaris Tawa [COMPLETED]

"Pada setiap bentuk bangunan, jadilah air sebagai pengokohannya." Kalimat itu sering Hulya gumamkan, sebuah filosofi tentang kekuatan yang tenang namun tak terpatahkan. Sebagai anak tunggal, dunia Hulya awalnya adalah bangunan yang megah dan nyaris sempurna. Namun, segalanya runtuh saat Allah mengambil kembali seluruh harta paling berharganya. Kecelakaan tragis itu bukan hanya merenggut nyawa kedua orang tuanya, tapi juga memaksa Hulya mengubur setiap rencana masa depan dan cinta yang baru saja mulai membumi. Kehilangan tidak pernah mengetuk pintu untuk meminta izin, dan Hulya tidak pernah siap. Ia kini berdiri di titik nadir, dipaksa melepaskan segalanya-sebuah pelepasan yang ia sendiri tak tahu apakah itu keikhlasan yang tulus atau sekadar keterpaksaan karena tak punya pilihan lain. Jika kesempatan kedua itu nyata, ia akan dengan senang hati menukar seluruh isi dunia hanya untuk kembali mendengar suara doa ibu atau merasakan tepukan di bahu dari ayahnya. "Lalu, apa yang harus kulakukan? Menyemai luka ini hingga waktu memudarkannya? Adakah ganti yang lebih sepadan dengan kehilangan mereka?" Pertanyaan itu terus berputar, bergema di kepalanya berkali-kali tanpa jawaban. Hanya lelaplah yang akhirnya menjadi pelarian sementara dari kenyataan yang perih. Dan setiap kali ia terbangun, jawaban pahit itu tetap sama: "Nggak pernah ada."

More details
WpActionLinkContent Guidelines