Aku menghargai keputusanmu untuk pergi. Aku juga menganggap bahwa jarak tak akan bisa memisahkan kita. Ku nanti kabar darimu namun yang kudapat hanyalah sebuah lara saat aku mengingat janji kepergianmu untuk kembali. Nyatanya kau bukanlah kembali, lebih tepatnya pulang dan aku tidak pantas disebut sebagai rumah untuk pulangnya hadirmu.
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Tak selamanya, impian menjadi semangat untuk menjalani hidup,
Bahkan, ketika kamu dan aku, tidak bisa saling melepaskan.
Aku dan kamu yang di takdirkan hidup dengan keegoisan.