love paid secretaries

love paid secretaries

  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Nov 17, 2020
Dia adalah atlet muda yg pertama yang berhasil mengharumkan nama bangsanya sebagai atlet pemanah pertama yg membawa pulang mendali emas di usianya yg masih 19 tahun. Semua orang kagum dan bangga padanya, tapi kekaguman dan kebanggaan itu hilang dengan sekejap karena kasus tuduhan pembunuhan terhadap kedua orang tua dan adik perempuannya. Diusia 23 tahun ia keluar dari jeruji besi yg mengurungnya kurang pebih empat tahun. Ia memulai usahanya untuk membuktikan bahwa bukan dia penyebab kematian keluarganya itu. Ia berhasil membangun sebuah perusahaan yg besar bersama sahabatnya dalam kurun waktu 6 tahun. Dia adalah seorang perempuan yg gila akan uang, dia akan melakukan pekerjaan apapun asal dibayar dengan uang. Di usiannya 6 tahun ia melihat ibunya pergi meninggalkan ayahnya yg sedang sakit-sakitan, ibunya memilih peria kaya itu dibanding keluarga kecilnya. Dia berharap ibunya itu tidak akan muncul didepannya suatu saat nanti. SUATU HARI MEREKA BERTEMU DENGAN LATAR BELAKANG YG BERBEDA
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • He Is Your Son (Vhope)
  • The Little Angel✓
  • 'PERJODOHAN' Treasurexyou
  • Twins; Jevan-Nevan [TERBIT]
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • NCT Family
  • My Illegal Love

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines