Aku Muslimah, Aku Berdaya

Aku Muslimah, Aku Berdaya

  • WpView
    Reads 14
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Nov 17, 2020
WpInfo
Fiction
Social Themes
Menjadi wanita bukan hal mudah, ada banyak aturan norma, ada banyak kisah pilu yang dipendam seorang. Pun kekuatan diri yang harus selalu terpatri. Menjadi wanita adalah perjuangan tiada akhir, perjuangan yang sampai mati. Sejak kecil hingga dewasa banyak peran yang harus di emban demi menjad wanita baik yang membanggakan. Menjadi wanita adalah keberuntungan. Banyak ladang yang bisa ditanamnya demi keindahan dunia akhirat. Menjadi wanita adalah kebanggaan. Karena jika dia baik maka dia menjadi perhiasan dunia, dan tiang negara. wanita bisa berwujud sebagai arsitek peradaban. Dari dalam rumah dia bisa mencetak generasi generasi emas untuk keluarga, bangsa bahkan agamanya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Langit di Ujung Dapur (TERBIT)
  • Keikhlasan Hati
  • Family Strength END✔️
  • Trauma Is Real
  • The Life Of a Woman's Dream
  • PELITA DI UJUNG SENJA
  • It's Okay, Kamu Normal !
  • mandiri tanpa sosok ibu

Di sebuah rumah sederhana yang dindingnya mulai mengelupas dan atapnya bocor saat hujan turun, tinggal seorang ibu bernama Bu Saras, bersama ketiga anak lelakinya: Rega, Gibran, dan Damar. Mereka hidup dalam keterbatasan, namun dapur tua di belakang rumah selalu mengepul-bukan karena masakan yang mewah, tapi karena cinta dan harapan yang tak pernah padam. Setiap pagi, dari jendela kecil di ujung dapur itu, Bu Saras memandang langit yang sama-langit yang ia yakini akan menjadi saksi perjuangan anak-anaknya menuju kehidupan yang lebih baik. Bagi Bu Saras, langit itu adalah simbol mimpi, doa, dan masa depan. Cerita ini mengikuti perjalanan panjang tiga anak laki-laki yang tumbuh dalam didikan keras namun penuh kasih seorang ibu yang memilih berlapar demi menghidupi mereka. Rega yang mengejar pendidikannya dnegan pengalaman, Gibran yang menemukan jati diri lewat seni, dan Damar, si bungsu yang diam-diam menyimpan impian besar yang bahkan tak berani ia ucapkan. Namun kehidupan tak selalu memberi waktu. Ketika mereka mulai mengecap sukses masing-masing, Bu Saras telah pergi-meninggalkan hanya kenangan dan langit biru di ujung dapur yang dulu menjadi saksi segalanya. Kini, mereka harus menemukan cara untuk membayar cinta yang tak pernah menagih, menyatukan kembali nilai-nilai yang diajarkan ibu mereka, dan menjadikan warisan paling sederhana itu-kasih sayang, ketekunan, dan ketulusan-sebagai pondasi kehidupan mereka. "Langit di Ujung Dapur" adalah kisah tentang cinta yang tidak bersuara, tentang pengorbanan yang tidak dipublikasikan, dan tentang bagaimana warisan paling berharga tidak pernah datang dalam bentuk harta-melainkan dalam bentuk arah dan makna hidup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines