We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Sunyi sendiri

Sunyi sendiri

  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Nov 18, 2020
WpInfo
Non-Fiction
Kai amat tidak pernah menyangka api yang menghangatkan ketika ia tertidur lelap di malam gelap, dapat melukai bahkan melenyapkan hidupnya. Siang tadi nampak cerah, ia masih ngobrol dengan warga tepi hutan yang menghantarkan makan siang untuknya. Ia masih mengeluh soal hari esok.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tolong, Aku Masih di Sini
  • STEP BROTHER [JoongDunk]
  • Malam Kelabu
  • Bucin || Jikyu [END]
  • SYUTING [PondPhuwin]
  • Suara Dari Kegelapan

Mereka bilang, jangan pernah main ke hutan itu saat matahari mulai turun. Bukan karena hewan buas. Bukan juga karena tersesat. Tapi karena... tak semua yang berdiam di sana adalah manusia. Di balik pepohonan yang menjulang dan semak berduri, ada satu rumah kosong. Sudah lama tak ditinggali, katanya. Tapi kadang- lampunya menyala. Tirai bergerak. Dan suara tawa terdengar di malam hari. Warga desa memilih bungkam. Anak-anak yang bertanya dibungkam dengan dongeng-dongeng: "Rumah itu milik orang kaya yang pindah ke luar negeri." "Sudah tak ada apa-apa di sana." "Jangan percaya cerita aneh-aneh." Tapi wajah mereka selalu tegang saat menyebutnya. Dan tak ada satu pun yang berani menjejakkan kaki ke tanah itu. Sampai akhirnya, pada suatu sore, Tujuh anak muda tertawa di antara rerimbun hutan, memainkan petak umpet tanpa tahu batas. Langit mulai redup. Angin berubah dingin. Dan salah satu dari mereka... menghilang.

More details
WpActionLinkContent Guidelines