Saatnya Kembali

Saatnya Kembali

  • WpView
    Reads 22
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Nov 19, 2020
WpInfo
Non-Fiction
Namaku Sara. Entah ini sudah yang berapa kalinya aku mampir ke rumah Hana. Tak ada pilihan lain, setidaknya aku bisa menghindari para preman tak tahu diri itu untuk tak menggangguku. Karena setiap kali Hana yang lewat, mereka hanya diam dan mengucapkan salam. Tapi ketika aku dan wanita yang lain lewat, mereka mulai memasang muka mesum itu, ditambah dengan sorot mata sayu, dan mulut bau rokoknya itu. Kenapa demikian?
All Rights Reserved
#545
kembali
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ALANA : A Stepmother's Journey to Love [ TELAH TERBIT ]
  • Assalamu'alaikum, Hana! [Terbit]
  • TEOLOGI CINTA
  • Tentang Rindu | END
  • Aku, Kamu dan Hujan
  • Hana's Indigo (True Story) ( Repost Ulang Sampai Tamat )
  • Rumah Tanpa Atap
  • Tak Seindah Cinta yang Semestinya(Sudah Tayang Di Google Play Store Ygy)
  • Mas Dhana (Balada Kasih Tak Sampai)

Alana Refasya adalah perempuan yang nyaris tak tersentuh, elegan, mandiri, dan dihormati di dunia mode. Di usia 32 tahun, namanya bukan sekadar label, melainkan simbol eksklusivitas yang bertengger di puncak industri. Setiap gaun rancangannya bukan hanya sekadar pakaian, melainkan seni yang membingkai keanggunan. Sosialita, selebritas, bahkan bangsawan berlomba mengenakan karyanya. Wajahnya menghiasi layar-layar raksasa di kota besar, terpampang dalam cahaya gemerlap yang menciptakan ilusi kesempurnaan. Namun, kesempurnaan adalah fatamorgana yang mudah runtuh saat berhadapan dengan kenyataan. Pernikahan dengan Erland Addison membawanya ke dunia yang tak pernah ia kenal sebelumnya, sebuah rumah yang megah, tetapi kehilangan makna sebagai tempat berpulang. Ada sesuatu yang salah di rumah ini. Mereka yang tinggal di dalamnya terlalu terbiasa untuk merasa tidak dicintai. Terlalu lama mengandalkan satu sama lain tanpa pernah benar-benar percaya bahwa mereka tetap membutuhkan sosok ibu atau pasangan hidup. Dan saat itu juga, kenyataan menghantam Alana dengan keras. Keluarga ini telah porak-poranda dalam genggaman perempuan yang seharusnya menjadi tempat pulang mereka. Hancur begitu saja. Mengikis keyakinan bahwa mereka pantas dan layak dicintai. Luka-luka lama mengakar begitu dalam, kepercayaan telah lenyap, dan di dalam rumah ini, rumah yang seharusnya menjadi tempat kembali-tidak ada ruang bagi siapa pun yang mencoba masuk. Anak-anak itu menatapnya dengan sorot mata waspada, seakan menunggu saat ia melakukan kesalahan. Mereka tidak butuh ibu baru. Mereka tak ingin percaya lagi. Dan Alana pun sadar... perjalanannya baru saja dimulai. Karena ia tahu, membangun rumah bukan sekadar memiliki dinding dan atap. Bahwa memenangkan hati tidak sesederhana merancang gaun yang sempurna. Dan di tempat ini, di antara hati yang telah lama kehilangan kepercayaan, ia mengerti satu hal, sekadar usaha tidak akan pernah cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines