So... Im A Magician!?

So... Im A Magician!?

  • WpView
    Reads 13
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Sep 6, 2021
Ariel hanya gadis sederhana biasa berumur 16 tahun. Bisa diterima di Canon high school, yang adalah sekolah favorit nya sudah membuat dirinya bahagia. Ia selalu berpikir akan lulus sekolah dengan nilai biasa, bekerja dengan gaji yang cukup, dan membangun keluarga yang sederhana. Namun, sepertinya takdir berkata lain. Secara tak sengaja dia menemukan sebuah ruangan yang ternyata adalah ruang klub sihir! Dengan hati terpaksa ia pun bergabung dan mau menpelajari sihir. Bagaimana kah kehidupan Ariel selanjutnya? . . . Bacalah, so... I am a Magician!?
All Rights Reserved
#75
eskul
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Terraciel World: Nyanyian Darah Tertua
  • Magic Audrey 1
  • JENDELA RITDHA
  • Royal Crystal Academy
  • The Princess and Me
  • Blackheart Academia (TELAH DITERBITKAN)
  • The Magic Stone: Crystalball [END]
  • Magia Academy [END]
  • The Fate Of Irina (Sudah Terbit)
  • Second Life Changes Everything

Varie melangkah ragu menuju aula utama. Matanya menyapu deretan kursi bertingkat yang tak terhitung jumlahnya. Mungkin ada ribuan, atau lebih. Belum pernah ia melihat aula sebesar ini. Jantungnya berdebar, antara gugup dan kagum. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Pandangannya menyapu ruangan dan terhenti pada sepasang mata biru yang begitu familiar. Pemuda itu, Kael. Sosok yang kini lebih dewasa, namun tetap dengan tatapan tajam yang tak pernah berubah. Varie menahan napas, matanya sejenak membeku. Tidak mungkin, Ini bukan kebetulan, kan? Tentu saja itu Kael, meskipun dia tampak jauh berbeda dari yang ia ingat. Kael melangkah pelan ke arahnya. Langkah-langkahnya tenang, terukur. Bukan terburu-buru, tapi juga tidak ragu. Seolah jarak di antara mereka memang tinggal menunggu waktu untuk dijembatani. Kael berhenti tepat di hadapan Varie. Beberapa detik hanya diisi keheningan. Sorot matanya tetap tajam, tapi dalamnya menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan, rindu yang ditahan terlalu lama. "Varie." Suaranya pelan. Varie mengerjap pelan. "Kael" ujarnya, lebih kepada dirinya sendiri. Tubuhnya seolah butuh waktu untuk menerima kenyataan itu. Tatapan mereka bertemu. ----- Di antara konspirasi kekuasaan, sihir pemusnah, dan kebenaran yang terlupakan, mereka dihadapkan pada pilihan: Mengikuti jalan yang ditentukan atau Membentuk takdir baru bersama. Darah dan mesin. Jiwa dan sistem. Saat keduanya bersinggungan, dunia tak akan lagi sama.

More details
WpActionLinkContent Guidelines