Fathiya pernah percaya bahwa rumah adalah tempat paling aman untuk pulang. Sampai suatu hari, ia menyadari bahwa beberapa rumah bisa tetap berdiri utuh meski penghuninya perlahan saling hilang. Mamahnya menjadi dingin. Papahnya semakin jauh. Dan Fathiya tumbuh menjadi anak yang terbiasa merasa bersalah tanpa pernah tahu kesalahannya apa. Di sekolah baru, hidup juga tidak berjalan mudah. XI MIPA 5 dipenuhi manusia-manusia dengan luka dan rahasia masing-masing. Ada Mutia dan Mitha yang perlahan mendekat, Akhtar yang selalu membantu tanpa banyak bicara, dan Remon-laki-laki dingin yang terus menyebalkan dengannya sejak perdebatan kecil tentang sebuah kursi. Sampai akhirnya, sebuah rahasia perlahan mengubah seluruh hidupnya. Dan sejak saat itu, Fathiya mulai belajar- bahwa mungkin rumah terbaik bukanlah sebuah tempat. Melainkan Tuhan. Dan diri sendiri.
More details