November-Ku

November-Ku

  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Nov 22, 2020
Hujan dibulan November sering menyisahkan kisah dilantai-lantai bumi yang sebenarnya kadangkala belum siap diguyur olehnya. Disadari atau tidak hujan dibulan November cukup sering menyapa. Membawa berita suka dan duka. Tahun ini begitu sulit tapi ternyata aku cukup kuat. Aku bukan penikmat kopi, kafein nya membuat ku menderita. Memang begitu nasibku ditakdirkan mencicipi yang manis-manis saja; susu, teh dan ice cream. Sembari menyegarkan mata menangkap Rangkaian Makna tulisan kesukaan. Lagi lagi kang uem(Uwais El Marosy) jadi pilihan favorite ku. Hujan kali ini, aku menikmati tulisan ini : “ Kita adalah sepasang merpati yang kini saling mencari, pada lipatan waktu dan dimensi nun jauh, belum memberi kesempatan kemari namun berarti” “Sebab pertemuan kita saat manusia-manusia lelap dalam tidurnya; di gelap malam buta.” “Hujan selalu hadir mewakili perasaan kerinduan, salam dariku puan. Semoga sehat terus menyertai segala kesibukan. Hujan, jangan berhenti mendoakan.” “Perihal singgah, aku begitu sungguh. Namun pemilik rasa terlebih dulu menekan asa di timur langit subuh, membelah dua jiwa yang saling mencoba teguh. Singgah yang sungguh, telakkan berani disanggah.” “Sebab kendati jatuh cinta, adalah ingatan perihal sulaman senyum secerah mentari masih terlukis rapi dalam kanvas memori. ” Hujan, jangan berhenti mendoakan. Ini Novemberku. Terimakasih, Semoga menginspirasi♥
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • CATUR [END]
  • ✔ Lovemorphosa [completed/revised]
  • SOLITUDES
  • Everything Will Be Okay
  • Rintik Hujan
  • DELIA & WISNU [Completed]
  • Misteri- US

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines