No Sun There

No Sun There

  • WpView
    Bacaan 43
  • WpVote
    Undian 6
  • WpPart
    Bahagian 2
WpMetadataReadMatangSedang Ditulis
WpMetadataNoticeTerakhir diterbitkan Rab, Nov 25, 2020
Letta dan Linden menlewati perpisahan yang sulit hingga akhirnya mereka dipertemukan kembali. Namun, ada perasaan berbeda saat mereka bertemu lagi. Perasaan yang lain yang seharusnya tidak ada di antara kakak dan adik seperti mereka. Perasaan menjijikan yang membuat siapapun merinding saat mengetahuinya. Letta dan Linden tahu itu hal yang salah, tapi perasaan sulit untuk di bohongi. Mereka juga tahu apa yang terjadi di antara mereka harus di akhiri bagaimanapun caranya, karena seberapa keraspun mereka mencari, tidak akan ada matahari yang menyinari harapan kecil mereka. Jika mereka tetap bertahan, mereka hanya akan terjebak dalam kegelapan.
Hak Cipta Terpelihara
Jom sertai komuniti bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang diperibadikan, simpan cerita kegemaran anda ke dalam Pustaka anda, serta beri komen dan undi untuk mengembangkan komuniti anda.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Lumière || Dino SVT ✔️
  • Red Velvet & Sunrise
  • Butterfly
  • Embrace again, Arnan
  • Rahasia yang kutemukan
  • [2] CERITA LENTERA
  • Lintang dan Gema [END]
  • Halo Elang
  • Jovanka dan Abang Kembar

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

Maklumat lanjut
WpActionLinkGaris Panduan Isi