Tower Of Death - [REVISI]
  • Reads 397
  • Votes 73
  • Parts 2
  • Reads 397
  • Votes 73
  • Parts 2
Ongoing, First published Nov 26, 2020
[TOG FANFICTION]
[ON - GOING]

Dengan tatapan yang mengartikan suatu yang menjijikan, Temannya itu mendorong Noelle ke arah tangga sambil tersenyum.

"Harusnya Noelle jauhin dia, karena dia milik [Sensor Kpi]" 

Noelle menatap [Sensor Kpi] dengan tatapan terkejutnya, ia tak pernah menyangka bahwa sahabatnya itu akan melakukan hal sekejam ini.

Apa aku terjatuh? - Batin Noelle santai

Sampai akhir pun, ia tak bisa membenci sahabatnya itu

Clap...

"Hei, apa kau baik-baik saja?" Suara yang tak familiar terdengar mengkhawatirkannya. 

"S-siapa?" Ia masih tak bisa membuka kedua matanya, terlalu bersinar. Ia merasa di cerahkan oleh cahaya ilahi.

"Noelle!" Terdengar beberapa orang berteriak menyebut namanya dengan nada yang khawatir.

Ia perlahan membuka matanya. "Eh?" Bukan dokter maupun temannya, yang ada di hadapannya adalah tim sweet and sour dari Tower of God!

...

Pertarungan antara warga menara yang disertakan komedi akan diwarnai dengan pertumpahan darah. Sebenarnya apa yang terjadi pada [Y/N]?
All Rights Reserved
Sign up to add Tower Of Death - [REVISI] to your library and receive updates
or
#142ffn
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 10
Dosa Ku cover
How To Be A Good Papa | Noren cover
Kesayangan Bunda cover
Kisah Tak Sempurna cover
Fiction -sungjake✔ cover
After Graduation cover
Ziel Alexander Dominic [PDF]✔️ cover
ELIO RILEY SERGEYEV cover
He Fell First and She Never Fell? cover
𝐒oerabaja, 1730 cover

Dosa Ku

65 parts Ongoing

Liu Qiaqio, Permaisuri Dinasti Jin, telah menyerahkan hati, jiwa, dan raganya untuk sang kaisar. Dia mencintainya dengan sepenuh hati hingga merasa lelah, tetapi sang kaisar yang dingin hanya memiliki mata untuk satu orang, dan orang itu bukanlah dirinya. Kehangatan di mata kaisar saat memandang orang itu tidak pernah menjadi miliknya, kelembutan suara kaisar saat berbicara dengan orang itu tidak pernah ditujukan padanya, bahkan hingga ajal menjemput. "Apa salahku sehingga kau membenciku sejauh ini? Apa aku telah melakukan kesalahan sehingga kau memandangku dengan begitu hina? Apakah mencintaimu adalah dosa yang begitu besar?" tanyaku dengan lemah. "Dosamu adalah mencintai seseorang yang seharusnya tidak kau cintai," jawabnya dingin. 'Dia benar, aku telah menghabiskan terlalu banyak cinta untuknya hingga aku tidak punya sisa cinta untuk anak-anakku, untuk mereka yang benar-benar peduli padaku. Jika aku diberi satu kesempatan untuk menebus semua itu, aku akan menghabiskan seluruh hidupku melakukannya,' pikirku sembari menutup mata dan menyambut kematian. Atau begitulah pikirku.