House is not always in the form of a house
44 parts Complete Gina, Shazia, dan Piola sudah sahabatan sejak mereka belum bisa baca jadwal pelajaran. Dari nyolong jajan bareng di warung sekolah sampai nangis bareng di atap rumah sambil ngebahas hidup yang kadang nggak adil, mereka selalu bareng.
Bagi mereka, rumah bukan cuma tembok dan atap - rumah bisa berupa pundak sahabat yang rela dipinjamin pas lagi nangis tengah malam, tawa receh di bangku taman sekolah, atau mie instan rebus bertiga sambil curhatin drama hidup yang nggak ada habisnya.
Mereka bertiga sama-sama punya luka sendiri. Gina dengan rumahnya yang berisik karena pertengkaran orang tua. Shazia dengan trauma masa lalu yang nggak pernah dia cerita ke siapa pun. Piola dengan topeng cerianya yang kadang bikin dia lupa cara nangis sendiri.
Di sekolah, mereka cuma tiga siswi SMA biasa yang sering bikin guru geleng-geleng. Tapi di balik segala kekonyolan, mereka jadi 'rumah' satu sama lain. Tempat pulang paling aman, meski temboknya cuma tawa, ejekan, dan pelukan seadanya.
Karena nyatanya, rumah nggak selalu punya pintu dan genteng. Kadang rumah itu wujudnya sahabat yang nggak pernah ninggalin meski hidup bilang 'udah cukup deh bareng-barengnya'.