Sebiji Kopi

Sebiji Kopi

  • WpView
    Reads 33
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Dec 13, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Kopi? Tidak pernah asing di dengar dan dilidah seorang lelaki bernama Tobi ini. Ia seorang barista yang bekerja begitu keras untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Ia cukup handal dalam meracik kopi. Tapi tidak lagi setelah bertemu perempuan judes yang disukai oleh sahabatnya sendiri. Pemerintah kota membuat sayembara kopi dengan iming-iming hadiah besar. Apakah Tobi mampu menyelesaikan ekonomi keluarganya? Lalu apakah ia mampu untuk menahan segala ego saat bertemu Andara? Routine Coffee, menjadi salah satu tempat bagi Tobi untuk terus bertemu Andara. Hingga akhirnya mereka bisa menyatu dengan berbagai perbedaan yang ada. [Ini adalah sebuah karya kolaborasi Ay dan Explieshit]
All Rights Reserved
#35
sayembara
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kopi & Deadline (On Going)
  • [END] Sunday Morning
  • Because I Love You (The End)
  • Perihal Hati
  • [✔️ Completed] Baby I just need some coffee
  • Takdirku dengan Cintamu 💕
  • Why Should We Meet? [END]
  • The Coffee Crush | On Going

Bukan karena lambat bekerja, Ara lembur lagi bagai kuda. Ara duduk sendiri di cubicle, mata lelah, kopi sachet ketiga di tangan, layar laptop menyala dengan file yang hampir rampung. Ingatkan Ara sekali lagi bahwa kerjaannya 'hampir rampung'. Dia menatap layar, lalu menarik napas panjang, "Aku nggak tahu lagi ini kerjaan atau penyiksaan... Tapi besok pagi harus submit, kalau nggak... ya biasa, dapat teror halus dari atasan." Dulu waktu kecil, Ara selalu mengganggap orang yang pulang kantor sampai pukul 12 malam atau pagi buta adalah orang-orang keren. Iya keren, keren keramnya sebadan-badan. Ara menarik napas panjang untuk kesekian kalinya, "Aku gila deh kayaknya, masa dulu kerjaan kayak ginian aku bilang keren." Di sela kelelahan itu, Ara mengenang tempat ngopi yang pernah dia datangi dua minggu lalu-tempat yang jarang dia datangi sebelumnya, tapi entah kenapa, wajah sang barista masih lekat di kepalanya. Dia pernah bilang ke dirinya sendiri , "Aku nggak punya waktu buat cinta." Tapi sejak ketemu cowok itu... apa kalimat yang digaung-gaungkan Ara mulai retak? GA MENERIMA NAMANYA PENJIPLAKAN YA EGE, NYARI IDE ITU GA MUDAH‼️

More details
WpActionLinkContent Guidelines