Dina
  • WpView
    Reads 91
  • WpVote
    Votes 8
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jan 17, 2021
"maaf kak" rinti Dina, memegang rambutnya yang ditarik oleh Dira. "emang kata maaf, bisa membalikkan keadaan seperti 4 tahun yang lalu" ucap Dira, menarik lebi keras lagi rambut Dina. hingga terdengar suara rintisan dari Dina. "ampun kak, Dina minta maaf" "Lo seharusnya yang mati, bukan mama" ucap Dira penuh penekanan setiap kata "maaf kak" Dina yang sudah lesuh dan di basahi dengan air mata tak bisa berkata apa-apa, menerima perlakuan kakak kandungnya dan adik tirinya yang begitu kejih. "maaf aja dari tadik!" geram Dira, melepaskan rambut Dina. beralih memegang rahang Dina. "maaf" ulang Dina, samar-samar. satu kalimat yang bisa keluar dari mulut Dina hanya kata 'maaf', tak akan ada yang bisa melindunginya lagi, selain dirinya sendiri. semua telah pergi, bahagia "gue akan mengambil semua apa yang Lo punya, termasuk Aril" ucap Tasya, adik tirinya. "jangan perna Lo dateng dalam keluarga baru gue" tutur Dina penuh penekanan. "dan Lo, cewek centil. jagan pernah lo deketin sama kak Deon dan kak Aril lagi. mereka hanya milik gue bukan elo" ucap Dira, menatap sinis
All Rights Reserved
#275
penyiksaan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • DUNIA FLORA
  • Memorable
  • DIANA IS MINE (COMPLETED)✔
  • My Friend Is My Strength
  • Forever Alone (Sudah Terbit)
  • Kamar Kosong 13 S2 [End] ✓
  • ALDIR (SEGERA TERBIT)

Gue cuma gak mau Lo mati," suara Fabian terdengar parau. Flora tersenyum getir, " Tapi Lo sendiri yang buat gue ngerasa mati sebelum gue mati," Fabian terdiam. Ucapan flora barusan menampar dirinya keras, membuat rasa bersalah semakin menggerogotinya. " Ra... Tolong ngerti," suara Fabian tercekat. " Gue selalu ngerti Fabian!" bentaknya tak sadar, isakannya semakin terdengar jelas, membuat siapapun yang mendengarnya pasti akan merasa sedih. "Tapi siapa yang peduli perasaan gue?" suara gadis itu melemah. " Siapa yang peduli mental gue hancur? Siapa yang peduli kalo gue cuma orang yang haus kasih sayang? Siapa?!" " Di sini ada gue yang sayang sama Lo," Fabian meraih tangan gadis itu namun flora dengan cepat langsung menepisnya. Air mata Fabian mengalir membasahi pipinya. " Kita bakal hidup bahagia..."satu isakan lolos dari mulut Fabian, namun ia langsung menahannya. Flora menggeleng pelan, tatapannya semakin kosong. " Kisah kita gak bakalan berakhir happy end Fabian..."

More details
WpActionLinkContent Guidelines