Melankolis

Melankolis

  • WpView
    Reads 12,280
  • WpVote
    Votes 742
  • WpPart
    Parts 25
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Sep 7, 2021
Ayasa tak pernah menyangka di umurnya yang baru menginjak dua puluh tahun harus mengalami masa yang paling sulit. Ia dipaksa menikah dengan seorang pria dari kota yang tak dikenalinya. Ia menjalani rumah tangganya dengan penuh sendu. Ia tak pernah dianggap istri oleh suaminya sendiri. Hingga sebuah kenyataan harus ia telan pahit-pahit, jika suaminya itu ingin menikah lagi dengan wanita lain. "Gue mau nikah sama pacar gue. Ini gue ngasih tahu, bukan minta restu sama lo, ya." "Dan ini gue kasih bukan buat ngundang lo. Tapi buat bukti kalau gue bener-bener mau nikah lagi." Selembar undangan berwarna gold disodorkannya kepada Ayasa. Aysa hanya menatapnya sekilas, lalu berusaha tersenyum selebar mungkin walau kenyataan bibirnya malah melengkung ke bawah. Ia berusaha dengan mati-matian menahan tangis dengan perasaan hancur berkeping-keping. Ayasa menatap matanya, ditepuk pundaknya lembut. "Semoga bahagia menyertai kalian. Doa terbaikku selalu terucap dibibir untukmu, Mas." Setelahnya Ayasa berlalu pergi dengan setetes air mata yang mulai turun. © No copas
All Rights Reserved
#213
melankolis
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ASYA - unrepeatable happiness
  • Silent, Please! (Re-up)
  • Antara Sarung dan Hallyu [Revisi]
  • MEISYA
  • Be Yours
  • Rieril
  • FEARLESS || JAYISA
  • (LENGKAP | SELESAI REVISI) Hello... Dudaku... (Sequel Off M.Gant)
  • SENJA DI PUNCAK TANGKILING

ASYA 2 - unrepeatable happiness POV ASYA *SAATNYA CINTA* DESEMBER 24' hujan rintik mulai membasahi bumi dan kini aku tersentak akan sesuatu yg membuatku sedih. yah, kenangan bersama dimas membuatku terasa bahagia. disatu sisi aku merasakan sakit yg amat dalam. "kenapa harus kembali ke masalalu, mas?" suaraku menjadi parau dan sakit sesaat setelah menyebutkan hal itu. cukup lama aku bersedih ketika mengingat bahwa orang yang aku anggap rumah ternyata hancur juga. aku tersentak saat dering telponku membuat atensi seisi kamarku. dan ya orang yg menelpon adalah wawan. aku berusaha untuk menetralisir suaraku setelah menangis. "hallo wawan? tumben nelpon kenapa?" "gimana kabarnya sya? masih sedih ya? aku cuman mau nanya kabar aja sekalian pengen ngajakin keluar ntar malem. bisa?" "iya boleh aku juga lagi suntuk dirumah" "oke kalo gitu ntar aku jemput ya?" kita ngopi di tempat aku kerja aja di pictum gimana?" "eum boleh deh kalo gitu nanti kabarin aja ya.." "okey see you to night aysaa hehe.." terdengar tawa tulus yang diberikan oleh wawan kepadaku dan aku sangat senang bisa kenal dengan wawan. karena sudah magrib, aku memutuskan untuk bersiap dan menunggu wawan untuk menjemput ....... setelah wawan menjemput asya, tibalah mereka di salah satu cofeshop tempat wawan bekerja yaitu pictum cofee. setelah memesan minuman dan beberapa makanan, mereka pun akhirnya ngobrol santai dan sesekali tertawa ringan sampai pada akhirnya.. "aku tau kamu masih mikirin dimas sya.. mungkin emang susah untuk move dari sesuatu yg membuatmu nyaman. makanya aku ajakin kesini supaya kamu ga terlalu mikirin dia lagi" "huft susah wan buat lupain dimas. mungkin emang butuh waktu untuk bisa lupain semua nya. aku masih ga nyangka aja si kenapa dia bisa balik ke masalalu nya.." "mungkin dimas masih sayang sama masala... eh itu dimas bukan si??" seketika obrolan mereka berhenti ketika melihat dimas dan pacarnya masuk ke cofeshop yang sama

More details
WpActionLinkContent Guidelines