Coffee in Love (ONESHOOT)

Coffee in Love (ONESHOOT)

  • WpView
    Reads 343
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Thu, Oct 16, 2014
WpInfo
Fiction
Romance
Cerita ini mengisahkan antara dua tokoh yang memiliki kesamaan; pecinta kopi dan pecinta buku yang dipertemukan di sebuah kedai kopi langganan masing-masing. Asap-asap yang mengepul dari setiap kopi langganan mereka lah yang menyatukan keduanya. Hingga, salah seorang dari mereka harus pergi jauh--tanpa pamit atau sekadar basa-basi untuk mengatakan ingin pergi. Namun, apakah mereka akan kembali bersama? jika tidak, apa yang akan terjadi? Jika iya, saat momen apa? apakah indah? atau malah sebaliknya? Satu pertanyaan lagi, 'Apa sebenarnya rasa kopi itu?' Temukan jawabannya disini! don't forget to leave comment, fav, etc. Don't be silent reader! thankschu. my lovely reader!
All Rights Reserved
#482
teen-romance
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kopi & Deadline (On Going)
  • The Coffee Crush | On Going
  • [END] Sunday Morning
  • One Sided Gaze Love [Completed]
  • Bukan Stalker [TAMAT]
  • Coffe Shop
  • Eyes That Never Looked Back I LingOrm [Bahasa Indonesia]

Bukan karena lambat bekerja, Ara lembur lagi bagai kuda. Ara duduk sendiri di cubicle, mata lelah, kopi sachet ketiga di tangan, layar laptop menyala dengan file yang hampir rampung. Ingatkan Ara sekali lagi bahwa kerjaannya 'hampir rampung'. Dia menatap layar, lalu menarik napas panjang, "Aku nggak tahu lagi ini kerjaan atau penyiksaan... Tapi besok pagi harus submit, kalau nggak... ya biasa, dapat teror halus dari atasan." Dulu waktu kecil, Ara selalu mengganggap orang yang pulang kantor sampai pukul 12 malam atau pagi buta adalah orang-orang keren. Iya keren, keren keramnya sebadan-badan. Ara menarik napas panjang untuk kesekian kalinya, "Aku gila deh kayaknya, masa dulu kerjaan kayak ginian aku bilang keren." Di sela kelelahan itu, Ara mengenang tempat ngopi yang pernah dia datangi dua minggu lalu-tempat yang jarang dia datangi sebelumnya, tapi entah kenapa, wajah sang barista masih lekat di kepalanya. Dia pernah bilang ke dirinya sendiri , "Aku nggak punya waktu buat cinta." Tapi sejak ketemu cowok itu... apa kalimat yang digaung-gaungkan Ara mulai retak? GA MENERIMA NAMANYA PENJIPLAKAN YA EGE, NYARI IDE ITU GA MUDAH‼️

More details
WpActionLinkContent Guidelines