theresa
  • WpView
    Reads 15
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadComplete Wed, Dec 2, 2020
WpInfo
Non-Fiction
"Prolog" Di suatu pagi. Pagi ini sangat cerah, bunga bunga banyak yang bermekaran, burung burung bersiul siul. Musim panas akan segera usai. haiiii, nama ku Theresa, aku lahir dari keluarga yang penuh dengan misteri. Ibuku seorang tabit disebuah kerajaan. Kata ibu, ayah pergi meninggalkan ibu pada saat aku masih berada di dalam kandungan. Bukan pergi meninggal tapi pergi jauh entah kemana. Aku hidup dengan sangat bahagia. Kotaku ini adalah kota yang paling indah, dari kota mana pun. Kota ini bernama, kota sabit. Entah lah, kenapa kota ini disebut kota sabit, aku gak tauu. Kota ini adalah kota yang aku banggakan, soalnya aku lahir disini. Ahhh lihat ada kupu kupu berwarna putih indah sekali. Sama seperti rambut ku berwarna putih. Kau tau mataku juga berwarna putih, karna itu aku selalu dijauhi oleh teman temanku karena kata mereka aku anak aneh dan menakutkan.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • ST [1] - (Fat)e
  • I Was The Evil Witch
  • Pelangi yang Telah Lama Hilang
  • [2] Keluarga Kaktus | Ondah Family
  • ASAVELA KIARA
  • Become Baby Boy✓
  • Aku, Kau dan Jogja yang Ditinggalkan
  • Air Mata Cinta Di Teras Surga ( SELESAI )

Disclaimer: Cerita ini adalah cerita amatir yang memiliki banyak kekurangan. Harap dibaca dengan bijak :) --- Sisterhood-Tale [1] : Taylor Hana Anderson Setiap perempuan selalu menjadi putri yang menunggu pangeran sejatinya datang. Taylor percaya kata-kata itu, kata-kata yang Mama ucapkan disaat dia berumur enam tahun. Dia yakin, pangerannya akan datang dengan mengendarai kuda poni berwarna putih dan membawa cincin pernikahan. Bodoh. Tentu saja itu imajinasi masa kecilnya. Di Jakarta, tak mungkin ada cowok memakai baju pernikahan. Apalagi mengendarai kuda. Namun, perkataan Mama ternyata benar. Meski bukan dalam artian sesungguhnya. Contohnya saja hidup Taylor. "Aku selalu menunggu kamu untuk melihatku. Kamu yang tidak pernah melihatku. Dia yang selalu menungguku. Kami terus saja berputar dalam satu lingkaran dan tak pernah bersinggungan. Kami selalu-dan tanpa sadar-bermain mengejar dan menangkap. Kami sama-sama tidak mengatakan sesuatu untuk meluruskan semuanya. Dan akhirnya, kami berbenturan dalam lingkaran tersebut." Copyright © 2013 by wulanfadi

More details
WpActionLinkContent Guidelines