I'm Sorry, What??

I'm Sorry, What??

  • WpView
    Reads 54,248
  • WpVote
    Votes 6,219
  • WpPart
    Parts 16
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jan 4, 2022
Sabrina, 17 tahun, dan sudah tergeletak di rumah sakit sejak 2 bulan yang lalu. Tubuhnya yang memang sudah lemah sejak kecil memaksanya untuk tidak dapat menikmati hidup seperti remaja pada umumnya. Untuk mengatasi kesepian yang dirasakannya, tak jarang tiga novel habis dibaca dalam sehari. Sering pula ia membayangkan dirinya sebagai tokoh dari novel yang ia baca. Namun suatu hari, ia masuk ke novel yang terakhir ia baca, dan menjadi tokoh antagonis dari novel tersebut. Si kaya bin jahat Selina Djojohadikusumo. Tokoh antagonis dengan nama yang mirip namanya. "I'm sorry, what?!" *** Start: 5 December 2020 This novel is purely a work of fiction. All rights reserved. No parts of this book can be reproduced, copied, or translated without author's written permission.
All Rights Reserved
#79
kaya
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Elegi Rasa : Pergi
  • 365 Lembar [END]
  • Being A Stupid Stepmother [END]
  • The High Class
  • Beware of The Villain
  • Cold Boyfriend [Ending]
  • Sister's Of Antagonis [ FULL PART]
  • [BL] Sudden Omega
  • Moon and Me [END]
  • LEITHLEACH

Kadang menjadi begitu terlambat menyadari sesuatu akan membekaskan rasa sakit yang tak lekang oleh waktu. Saat cerita yang kelewat singkat dilalui menghantarkan pada sakit yang menghantui. Safir sudah merasakannya. Dua kali dalam hidup ia seperti dipermainkan rasa. Nila yang tak mau melihat. Dan Bianca yang pergi pada sesuatu yang tak terlihat. Ketika sepi melanda. Bukannya pada dunia yang luas, hanya pada dunianya sendiri yang tiba-tiba runtuh. Safir merasa begitu buruk di mata Bianca. Merasa begitu lelah di hadapan Nila. Dan malam itu, harusnya ia berusaha lebih keras. Saat si gadis berkata, "Aku pamit pulang, ya." Harusnya Safir membujuk lebih tegas. "Biar aku yang antar." Kenyataannya, Safir menjadi begitu terlambat. Saat rasa itu mulai tertambat. Hatinya justru sakit tanpa ada yang membebat.

More details
WpActionLinkContent Guidelines