Hello, Sir!

Hello, Sir!

  • WpView
    Reads 229
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, May 3, 2021
Sering bertengkar dan jarang akur kecuali bagian pekerjaan, Lana harus mengikuti kencan buta yang sebenarnya untuk temannya. Diimingi upah lumayan, menggoyahkan hatinya. Seseorang yang menjadi kencan butanya malah atasannya sendiri. Antara merinding dan menahan diri untuk tidak menyebarkan gosip, ia dibungkam oleh atasannya yang hanya mengucapkan beberapa kalimat saja. Dan entah sejak kapan hubungan mereka malah lengket dan sering terjadi salah paham bagi Lana. "Sudah bangun?" Lana yang masih samar mendengar itu mengangguk perlahan, matanya terbuka. Kaget karena ada seniornya dan rekan kerjanya yang lain. "Eh?" Sepasang lengan kekar memeluknya erat. Pertanda buruk lainnya ia duduk di paha seseorang dengan posisi yang sangat memalukan. "Lembur bareng itu asik, ya. Setidaknya kalian harus ke hotel kalau mau melakukannya." "Apa? Tidak ini salah paham! Kita tidak ada hubungan apapun!" pekiknya tanpa sadar malah membangunkan orang dibelakang. "Hm? Selamat pagi sayang." Oh, God. Habis sudah. Bagaimana ia akan membuktikan kebenaran dan penyangkalan terbaik setelah ucapan selamat yang manis dan disertai kecupan hangat? Hari damainya sudah tiada. Start : 07Desember20
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SKANDAL ADIK IPAR (SELESAI)
  • Ok, Boss! [Re-Post]
  • 2nd Bite of The Cherry
  • What's Wrong With You, Boss? (COMPLETED)
  • Life Secretary
  • Silent, Please! (Re-up)
  • Senin Sampai Jumat, kita [on going]
  • Cinta Salah Kirim
  • FRIEND WITH BENEFIT (SELESAI)
  • My Boss's Baby

"Rafael" kata itu meluncur dengan sendirinya. "Kamu tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?" Tanya Rafa. Ia memperhatikan tubuh Arin, ia memastikan tidak ada terluka sedikitpun ditubuhnya. Rafa mengenal wanita berparas cantik itu. Pertama kali ia lihat bahwa itu adalah Arin, calon adik ipar. Dulu Rafa, mengenal Arin saat Arin masih kecil, kira-kira ia masih duduk di sekolah dasar, dan sekarang tumbuh sebagai wanita dewasa. Oh Tuhan, kenapa Arin tumbuh begitu cantik, kulitnya pucat seperti porselen, tidak pernah disentuh. Matanya begitu bening dan hidungnya mancung. "Saya tidak apa-apa, kesayangan, kenapa bisa hancur begini" Arin melangkah mendekati ponsel miliknya, ia memunguti satu persatu kepingan-kepingan ponsel miliknya. Kesayangan? Ternyata Arin menyebut ponsel itu dengan kata kesayangan. Rafa ingin tertawa, Rafa lalu mendekati Arin, dan ikut berjongkok memunguti kepingan-kepingan ponsel Arin yang hancur berderai. Diliriknya lagi Arin dihadapannya. "Maaf, saya akan mengganti ponsel baru untuk kamu" ucap Rafa mencoba memberi solusi. Sesungguhnya kejadian tadi bukan salah ia sepenuhnya. Arin lah yang tidak melihat arah tujuannya, Arin lebih asyik dengan layar ponsel itu. Sehingga menyebabkan adegan tebarkan itu. "Tapi, disini banyak foto-foto saya". "Yasudah nanti kita ke konter, saa yakin pihak konter tahu cara memindahkan foto-foto kamu itu" Rafa lalu berdiri, dan kembali menatap Arin. "Kamu kenapa bisa ada disini, Arin?" Tanya Rafa. "Liburan" ucap Arin ia malah menyengir. "Sendiri?". "Iya dong, sama siapa lagi". "Liburan sendiri itu tidak baik, kalau terjadi apa-apa bagaimana? Ini Bangkok loh" ucap Rafa, lalu duduk dikursi tunggu, diikuti juga oleh Arin. "Tapi, saya sudah biasa kok. Kamu kenapa ada disini?". "Saya ada urusan kerja" ucap Rafa. "Jadi gimana, handphone saya?".

More details
WpActionLinkContent Guidelines