00:00
  • WpView
    Reads 272
  • WpVote
    Votes 22
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Dec 9, 2020
Keringat dingin terus mengucur, hujan tak kunjung berhenti, bahkan sekarang disertai petir dan gluduk yang seakan akan tertawa akan penderitaan Tata yang akan datang sebentar lagi. Tata merutuki diri nya sendiri, ia berjanji tidak akan mengulangi hal yang bodoh lagi. Tiba-tiba saja dosen di depan Tata meletakkan map kuning tersebut di atas meja berlapis kaca itu dengan kasar, yang berhasil membuat Tata mendongakkan kepalanya. "Boleh saya injak jurnal kamu?" Ucap laki laki tampan, namun sadis di depan Tata. Tata menggenggam tangannya dengan kuat, sembari melihat papan nama yang berdiri gagah di atas meja tersebut, dengan map kuning, yang kertas didalamnya sudah keluar dari tempatnya dengan mengenaskan. "Arjuna Mahendra, dasar dosen sialan" batin Tata
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kasat Rasa [Ongoing]
  • Di Antara Akar dan Langit
  • After J (Complete)
  • Baby's Ex-Mafia
  • Game Over: Losing Control
  • 99 Days with Pak Dosen [END]
  • PESAN UNTUK RAYAN
  • Why you Comeback
  • ELGA

Keduanya sama-sama tertawa ketika suasana perlahan mencair. Juwita yang mulai membuka diri kini kembali melontarkan pertanyaan acak yang Ia sesali setelahnya. "Kamu kalo kesini sama siapa, raf ? Pacar ?" Raut lelaki itu tiba-tiba berubah. Tatapan matanya berpendar kearah lain, menyembunyikan cemas yang tersirat di balik jawabannya yang santai. "Pacar saya lagi gga di sini, Rei. Dan dia bukan anak tongkrongan kayak kita." Tanpa sadar gadis itu menahan nafasnya sendiri, belum siap dengan jawaban yang diterimanya. "Oh, gitu. Udah lama LDR-nya ?" Juwita bertanya lagi dengan wajah ingin tahu, walau kenyataannya justru sebaliknya. Sebab menurutnya akan aneh ketika topik itu hanya berhenti sampai di situ saja. "Sejak lulus kuliah. Dua bulan yang lalu. Dia sekarang lagi lanjutin S2 di Jakarta." "Wowww,,,hebat ya dia masih semangat untuk kuliah. Limitted edition tuh cewek kayak gitu. Kamu beruntung, raf." Lelaki itu hanya menjawabnya dengan senyuman tipis. Kepalanya menunduk, menyembunyikan wajahnya dari Juwita yang sedang menatapnya nanar. Setelahnya, obrolan itu terjeda beberapa saat. Keduanya kembali sibuk dengan isi kepala masing-masing. Juwita yang merasa bersalah karena telah menghadirkan pembahasan yang berat, juga Asraf yang kini sedang mengabaikan kenyataan yang membuat suasana kembali hening. "Kayaknya salah banget ya kita baru ketemu sekarang ?" Rasanya seperti ada sebuah kekuatan besar yang menyerap habis suara-suara di sekitar mereka. Heningnya terasa mencekam ketika hanya ada suara Asraf dan debar jantungnya di sana. Pertanyaan Asraf tadi menggaung di telinga, menimbulkan rasa perih yang tidak seharusnya ada. Untuk apa Ia merasa kecewa ketika tahu bahwa Asraf ternyata sudah punya pacar ? Bukankah mereka tidak pernah memiliki hubungan yang spesial sebelumnya ?

More details
WpActionLinkContent Guidelines