00:00
  • WpView
    Reads 272
  • WpVote
    Votes 22
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Dec 9, 2020
Keringat dingin terus mengucur, hujan tak kunjung berhenti, bahkan sekarang disertai petir dan gluduk yang seakan akan tertawa akan penderitaan Tata yang akan datang sebentar lagi. Tata merutuki diri nya sendiri, ia berjanji tidak akan mengulangi hal yang bodoh lagi. Tiba-tiba saja dosen di depan Tata meletakkan map kuning tersebut di atas meja berlapis kaca itu dengan kasar, yang berhasil membuat Tata mendongakkan kepalanya. "Boleh saya injak jurnal kamu?" Ucap laki laki tampan, namun sadis di depan Tata. Tata menggenggam tangannya dengan kuat, sembari melihat papan nama yang berdiri gagah di atas meja tersebut, dengan map kuning, yang kertas didalamnya sudah keluar dari tempatnya dengan mengenaskan. "Arjuna Mahendra, dasar dosen sialan" batin Tata
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Di Antara Akar dan Langit
  • Essentialy Love (SELESAI)
  • Hi! kaladevara (HIATUS)
  • Why you Comeback
  • Game Over: Losing Control
  • [ END ] I Love (Hate) You, Pak Dosen!
  • PESAN UNTUK RAYAN
  • My Lecturer Is My Roommate
  • 99 Days with Pak Dosen [END]
  • After J (Complete)

Langit sore menggantung rendah di atas kampus yang tak lagi riuh oleh tawa mahasiswa. Hanya angin yang menyelinap diam-diam, menyapu dedaunan yang gugur terlalu dini. Di bawah pohon trembesi tua, Ikhram berdiri. Tegak, namun goyah. Matanya menatap cakrawala yang seolah sedang menunggu jawab. Sinta tak jauh darinya, namun dunia seakan telah menarik jarak tak kasatmata di antara mereka. Ia menggenggam berkas laporan yang pernah mereka tulis bersama. Tangan kecilnya gemetar, bukan karena dingin, tapi oleh beban kalimat terakhir yang belum sempat terucap. "Apa arti mencintai jika langkah kita saling bertentangan?" Ikhram tak menjawab. Langit sore memudar menjadi kelabu. Seperti hati mereka yang ragu: apakah cinta bisa tumbuh di antara kemarahan pada dunia? Mereka pernah seirama: pada slogan-slogan perubahan, pada malam-malam panjang di sekretariat, pada luka-luka yang disembunyikan di balik semangat. Namun kini, mereka berdiri di persimpangan dua jalan yang tak lagi sejajar. "Kau memilih diplomasi," bisik Ikhram, "sementara aku memilih api." "Dan mungkin keduanya akan gagal," jawab Sinta, nyaris seperti doa. Di sela desah angin dan detak jam kota, mereka melepaskan satu sama lain-tanpa janji, tanpa kepastian akan bertemu lagi. Hanya diam, dan senyum yang tak sempat penuh. Satu daun jatuh di antara mereka. Dan cinta pun menggantung, seperti langit yang belum selesai mencatat akhir cerita.

More details
WpActionLinkContent Guidelines