We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
TECTROLOVE

TECTROLOVE

  • WpView
    Reads 162
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, May 18, 2021
WpInfo
Fanfic
NCT
Satu bangunan dengan rangkaian listrik bisa jadi satu kesatuan. Ada dua mahasiswa yang mencoba menjadi sebagaimana definisi itu, menjadi rumah yang menghangatkan. Hingga diawal proyek, penentuan pondasi dan aliran arus untuk jadi sesuatu yang utuh ternyata sangat rumit. "Udahan aja kali ya kita?" "Eh?" "Ha?" ©DnlyIan Cover by : DnlyIan
All Rights Reserved
#112
svt
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Puzzle Love | END
  • A GA TA || Lee Jeno [COMPLETED]
  • ADARUSA | Park Jisung (TAHAP REVISI)
  • Cycle mate
  • COLDEST | NA JAEMIN ✔
  • Cheating - Mark Lee [ ✓ ]
  • ASRAMA LANTAI 7 {TERBIT} ✓
  • 7 Days for 7 Dreams
  • It's Always Been You✔️

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines