The Wiyata

The Wiyata

  • WpView
    MGA BUMASA 1,109
  • WpVote
    Mga Boto 141
  • WpPart
    Mga Parte 16
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeHuling na-publish Fri, Jul 7, 2023
WpInfo
Fanfic
NCT
"Money can't buy happiness." Bagi Amaranth Nailazaara Wiyata, kalimat tersebut sangat tidak klop untuknya. Terlahir sebagai perempuan cendekia trah Wiyata membuat Amara bisa memenuhi segala kesenangannya, dengan atau tanpa selembar uang sedikit pun. Mungkin akan lebih tepat baginya jika ditulis ulang; "Money can't heal the wounds." Luka yang menganga akibat ulah pria yang menjadi cinta pertamanya membuat Amara terbelenggu rasa takut. Takut akan kehilangan sosok yang ia cintai. Lagi. Ditambah dengan hadirnya para lelaki yang akan masuk ke dalam kehidupan perempuan itu dan menjadi tempat bersandarnya membuat Amara lagi-lagi harus berurusan dengan hatinya. Pilihannya hanya dua, mengurangi luka dengan menutup dirinya atau menghilangkan ketakutannya dengan menambah luka.
All Rights Reserved
#131
nctlokal
WpChevronRight
Sumali sa pinakamalaking komunidad ng pagkukuwentoMakakuha ng personalized na mga rekomendasyon ng kuwento, i-save ang iyong mga paborito sa iyong library, at magkomento at bumoto para lumago ang iyong komunidad.
Illustration

Magugustuhan mo rin ang

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Perihal Rasa Sesal
  • Senja Untuk Ayana [✔] - Na Jaemin (END) || SUDAH TERBIT
  • What If - NCT Haechan & Lucas
  • Abang Gaibku ( NCT Dream)
  • KETUAKEL VS WAKILKEL [BXB]
  • ICU Mom <MarkHyuck> [END]
  • LIFE IS MONEY | HAECHAN ✔️

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

Karagdagang detalye
WpActionLinkMga Alituntunin ng Nilalaman