Kematian disebut sebagai sesuatu yang menakutkan, juga, kembali kepada pelukan kematian adalah kedamaian tidak berarti, seperti bunga putih yang tersapu oleh tsunami. Barangkali itu menyakitkan dan 17 tahun itu hanya sekejap mata, aku harap aku dapat hidup hingga akhir hari.
Sore itu, matahari membentuk seriak layu jingga yang membentang sepanjang langit, seseorang dengan mata gelap gulita seperti malam tercermin dalam pandanganku. Dia tersenyum lesu dan tidak berdaya seraya berkata "Ternyata, membunuh seseorang itu sama melegakannya dengan kematian, begitu tidak berarti dan tanpa daya"
"Untuk kita yang tidak pernah dicintai, ada baiknya lenyap dalam ketidakberartian lebih awal. Maukah kamu, ikut denganku? Ayo kita pergi melarikan diri, ke surga yang jauh disana, yang penuh dengan kehangatan keluarga, dengan susu dan sepiring sereal setiap pagi."
Pada hari itu, aku mengikuti langkah kakinya, keluar dari rumah dengan tas berisi Nintendo dan dompet. Aku tinggal kan semua kenangan tentang teman dan keluarga, kini tidak ada yang berarti lagi. Hanya kami berdua, berlari dan bermain-main seperti orang gila, pergi jauh, ketempat yang sepi tanpa siapapun untuk mati dan lenyap, hanya menyisakan ingatan bagi orang-orang yang memang ingin mengingatku.
"karena keberadaan kita hanya momok saja" jadi kupikir tidak ada alasan untuk tinggal lebih lama, disini, di dunia yang teramat indah untuk mereka.
Aku adalah hasil dari masa lalu, buah dari cinta yang kandas, dan aku tercipta dari ketidakadilan dunia. Jeritan dan tangisan adalah perhiasan ku sehari hari yang menghiasi setiap langkah dan setiap hembusan nafas ku. Seolah aku juga adalah masa lalu yang harus di lupakan oleh mereka.
Tangisan di tengah malam memecah kesunyian, luka yang tertutup kabut seolah utuh dari luar, Raga yang sempurna dengan jiwa yang sekarat.
Gadis kecil tidak berdosa yang menanggung akibat keegoisan orang tua, Kehilangan cahaya hidup nya, berjalan tanpa arah tak tau tujuan tanpa penerangan.
Tidak ada bimbingan atau petunjuk.dia sendirian, Mengendarai perahu kecil tanpa nahkoda, menyusuri lautan derita yang tiada akhir nya.
Harapan demi harapan di langitkan namun hanya suara angin yang menjawab. Mampukah dia bertahan di ambang keterpurukan nya? Apakah alam akan menjawab semua harapan nya?
"aku terlalu takut untuk mati tapi terlalu sakit untuk hidup. Seseorang tolong aku, berikan aku lampu untuk melihat masa depan,aku tak ingin hanyut mati dalam kegelapan"
{DIRA}
_________________________________________
⚠️⚠️⚠️
cerita ini hanya ada di sini jika ada yang sama kemungkinan itu tiruan.ini bukan plagiat tapi murni hasil kerja otak dan kejadian-kejadian di kehidupan, Jika ada cerita ini di tempat lain mohon beri tau saya atau tolong laporkan segera terimakasih.