Like A Pair Of Goose

Like A Pair Of Goose

  • WpView
    Reads 48
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Dec 26, 2020
Saat impian menjadi kenyataan. Akankah kita merasa bahagia? Tentu. Tapi apakah impian yang menjadi nyata itu akan selamanya bernama impian? Bagaimana jika impian itu berbalik nama menjadi sebuah tragedi? --------- "Udahlah bro, sampai kapan mau menjomblo gini? Tuh yang berdiri di sana, lumayan juga." Mark menunjuk seorang siswi di sana. "Lumayan pala lo! Manis banget itu," ujar Brian. "Jaga hati woi!" kata Mark. Yang dinasihati justru tidak peduli dan memilih untuk memainkan bola basket, meredam kekesalannya. Bola basket itu melambung tinggi membentuk sebuah garis parabola yang tak nampak di udara setelah Leon melemparkannya dengan kuat. Ia kesal denga teman-temannya yang selalu saja mengejek dia soal pacar. Kalian pikir cari pacar semudah itu? Tinggal tembak, udah. Tak disangka bola basket tadi mengenai kepala seorang siswi yang sepertinya sedang menjalani hukuman, ia memejamkan matanya untuk menghindari silaunya sinar matahari sampai tak sadar ada bola datang dari arah depan. "Aww! Siapa sih?!" Teriaknya terkejut. Leon berjalan menghampirinya dan berdiri tepat dihadapan gadis itu. "Lo, jadi pacar gue. And sorry" ujar Leon datar dan serius. Sialnya gadis itu hanya bisa diam dan memandangi orang itu yang mulai berbalik dan meninggalkannya. Dalam hati dia merapalkan makian-makian yang ditujukan kepada pria yang katanya adalah pacarnya sekarang.
All Rights Reserved
#353
impian
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Aksara Lingga
  • Aku Ingin Bercerita
  • AKSARA ( ON GOING )
  • You And Me, Can We? [On Going]
  • Deksa 's Diary
  • MEISYA
  • YIN & YANG
  • JAM 3 SORE
  • Terima kasih Imajinasi [end]
  • Destiny said. {BERSAMBUNG}

"masa iya anak SMA ngacak - ngacak pikiran gue?" ..... "Tolong saya sekali lagi dong pak, penguntit gila itu masih ngikutin saya. Please pak" tangannya mengatup dengan memohon agar pria itu membantunya lagi. "Oke! Sini ikut saya" Pria dewasa itu menyambar baju panjang dan lengan Lingga. memepetkannya di tembok dekat ruang ganti. "Kamu diam ikuti saya" katanya dengan tegas. .... Hani menengokkan kepalanya setelah melihat pria didepannya bersemangat melempar bola basket kedalam ring di timezone. kini ia mendapati kawannya, Lingga ternganga pada pria yang akhir - akhir ini mengisi kekosongan hidupnya. serta gadis yang berada pada ujung kanan lingga -Shenna juga terpana atas ketampanan pria brewok itu. "Gila ganteng banget anjir" Lingga masih tak mengedipkan mata dan terus memandangi. "iya woeeyy!" Hani mengiyakan. "sadar guys, umurnya 30" sedangkan Shenna yang tak dipungkiri juga merasakan hal yang sama. hanya saja dirinya sajalah yang realistis dan tetap pada batas wajar. .... "Pak Aksara Pernah dugem?" mata lingga menatap Aksara menyelidik. mencoba mencari jawaban pada manik mata miliknya. .... "Apa ayah tidak kesepian?" mobil golf melaju sedang. membawa dua penumpang, Ayah dan anak yang sudah lelah bermain golf tersebut. "rumah sebesar itu, setiap hari isinya hanya pelayan?" Lingga mengamati wajah ayahnya yang mulai keriput. entah sejak kapan garis itu muncul. mata milik ayahnya mirip sekali dengan miliknya. tidak belo dan tidak cipit. sedang. "Kenapa kamu tanya gitu?" "Ayah tampak menyedihkan" kalimat yang Lingga buat, selalu berhasil membuat ayahnya tertegun. untuk menyalahkan tak sanggup, dan membenarkan pun akan lebih menyakitkan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines