We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Jika dunia tanpa pohon

Jika dunia tanpa pohon

  • WpView
    Reads 153
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 16
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jan 10, 2021
WpInfo
Fiction
Romance
Kegagalan pernikahan tak membuat Ara wanita lajang 35 tahun patah arang. Dia memilih kembali dan mengabdikan dirinya pada kampung halamannya. Membangun dari nol, bertani di tanah yang gersang, kekurangan sumber daya manusia, penolakan warga desa karena status perawan tua cantik dan segala alasan yang tak masuk diakal membuat Ara sempat frustasi. Lari sejenak dari keadaan, Ara bertemu dengan Ben seorang Chief Officer di kapal pesiar. Lelaki frustasi karena penghianatan sang istri ini nekat mengikuti Ara ke kampung halamannya. Dua dunia yang berbeda .... Laut dan darat, tapi bersatu. Bagaimana perjalanan mereka? apakah angin kering dari kampung Ara membawa benih cinta bagi hati mereka yang sama-sama gersang?.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Cinta Dalam Mekarnya Bunga
  • BULIR CINTA [END]
  • Araleya Titik Temu Semesta (COMPLETED)
  • Yang Tersisa Dari Cinta [ END ]
  • Querencia #31 Days Writing Challenge
  • setangkai mawar di musim dingin
  • Komandan Tampanku
  • AIR (Ketika dua air yang berbeda arti disatukan atas nama cinta) KOMPLIT

Lila percaya bahwa cinta mirip bunga. Ia tak bisa dipaksakan untuk tumbuh. Ia butuh waktu, kehangatan, dan keberanian untuk mekar di tengah dunia yang kadang terlalu dingin. Hidup Lila selama ini sederhana, tenang, seperti angin pagi di antara deretan bunga matahari yang menghadap ke timur. Sejak kecil, ia hidup berdampingan dengan warna-warni kelopak dan wangi tanah basah. Ia merawat bunga seperti merawat dirinya sendiri-penuh kelembutan, tapi juga penuh kehati-hatian. Namun, ketenangan itu perlahan mulai retak ketika ia bertemu Arka. Arka datang seperti angin musim gugur: dingin, tak terduga, dan membawa sesuatu yang membuat dedaunan gugur satu per satu. Ia bukan pria yang datang dengan tawa lebar atau kata-kata manis. Ia hadir dengan sorot mata yang tajam, langkah yang berat, dan diam yang penuh rahasia. Lila bisa merasakannya-ada beban yang dibawa pria itu, sesuatu dari masa lalunya yang belum selesai. Pertemuan mereka terjadi begitu saja. Tanpa rencana, tanpa aba-aba. Arka sedang mencari bunga untuk seseorang yang telah tiada. Lila, seperti biasa, tengah menyusun rangkaian bunga mawar putih di toko kecil peninggalan ibunya. Tak ada yang istimewa, kecuali cara Arka menatap bunga seolah sedang berbicara pada sesuatu yang tak terlihat. Dan sejak saat itu, dunia Lila mulai berubah. Perlahan, kehadiran Arka menjadi bagian dari hari-harinya. Mereka tak banyak bicara, tapi diam mereka saling memahami. Lila menemukan kehangatan di balik dinginnya sikap Arka, dan Arka menemukan ketenangan dalam mata Lila yang jujur. Tapi cinta yang tumbuh di antara mereka bukanlah cinta yang mudah. Ia datang membawa ujian, luka lama, dan pertanyaan-pertanyaan yang tak selalu punya jawaban. Karena Arka tidak datang dengan hati yang utuh. Dan Lila bukan gadis yang bisa mencinta setengah-setengah. Mereka seperti dua bunga yang mekar di musim berbeda-saling mendekat, tapi takut layu sebelum waktunya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines