Aku dan Keterlemparanku di Dunia

Aku dan Keterlemparanku di Dunia

  • WpView
    LECTURAS 160
  • WpVote
    Votos 4
  • WpPart
    Partes 30
WpMetadataReadContenido adultoConcluida mié, ene 6, 2021
Akanan termenung mendekap bantal dengan secagkir kopi yang tersisa ampas, melalui jendela kaca dengan cat yang mulai mengelupas pada bingkainya, pertanyaan-pertanyaan tentang jati dirinya mulai bergerumul dalam pikirannya seiring dengan tergelincirnya sang surya yang tersisa jingga. Pikirannya mulai disibukkan dengan rasa penasaran layaknya anak kecil yang mengantarkannya pada suatu keputusan. Akanan menjatuhkan pilihannya untuk mengambil focus study yang menurutnya akan menjawab pertanyaannya di kala senja itu. Akankah Akanan akan lebih mengenali dirinya ataukah malah hilang dari identitasnya?
Todos los derechos reservados
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Tutorial Berpikir Benar untuk Pemula
  • Refleksi
  • The Dark Side(END)
  • Meneroka Jiwa 2
  • Orange Spirit ✔
  • Bukan Denyut Terakhir, kan?
  • Unexpected Ending
  • Pelangi
  • BERKELANA DI LABIRIN [End]

Saat ada tsunami, kita nyari objek paling kuat untuk dipegangi. Karena kita berharap dengan memegangnya, kita bisa selamat. Saat berlayar di laut, melihat mercusuar adalah hal yang istimewa, karena dia penunjuk arah dan memberi isyarat bahwa kita sudah dekat dengan dermaga. Begitupun dalam berargumen, boleh saja kita ini awam, boleh saja kita ini bukan ahlinya, tapi kita wajib memegang referensi yang memiliki bukti valid terkait hal yang sedang dibahas, karena kita berharap adanya rasa aman setelah mengetahuinya. Kita juga bisa berargumen menggunakan referensi tersebut dengan baik tanpa emosi. Kenapa banyak orang yang tersasar di gurun lalu meninggal? Ya memang mereka kehausan dan kelaparan. Lalu apa alasan lainnya? Karena saat di gurun, mereka berpatokan pada gunung pasir tertinggi yang mereka lihat, kemudian mereka mencoba untuk menaikinya dengan harapan pandangan mereka jauh lebih luas dari sebelumnya. Tapi mereka tidak sadar bahwa sebelum sampai ke gunung pasir tertinggi itu, angin kencang telah menghembuskan pasirnya dan gunung yang dimaksudkan sudah tidak ada lagi, berpindah posisi ke tempat lain. Saat ia menuju ke gunung itu, angin berhembus kencang lagi, begitu seterusnya. Orang yang tidak bersumber pada referensi valid, ia seperti orang yang ada di gurun itu. Bedanya, orang di gurun mati fisiknya. Kalau dia, mati akalnya. Itulah gambaran yang bisa gw tulis untuk mengawali kata pengantar buku ini. Tanpa sumber referensi yang valid, kita akan terhembus kemanapun angin keributan itu berarah. Buku ini pastinya banyak kekurangan, karena ditulis oleh pemula. Karenanya, segala kritik dan saran yang membangun akan selalu ditunggu agar terpeliharanya ilmu pengetahuan yang bersih dan dapat diwariskan sebaik mungkin kepada generasi penerus bangsa (yang ga ada aplikasi tiktok di hapenya). Oh ya, gaya bahasa yang digunakan pada tiap bab akan berbeda, tergantung mood yang menyertai penulisnya.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido