Sate Rindu
  • WpView
    Membaca 99
  • WpVote
    Vote 3
  • WpPart
    Bab 2
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sen, Des 14, 2020
WpInfo
Fiksi
Romansa
"Mulia tidaknya seseorang bukan diukur dari nasab keturunan nang, tapi justru diukur dari kadar ketaqwaannya pada Allah Sang Maha Pencipta." Begitu nasehat Eyang. "Lalu kenapa mereka meng-istimewakanku berlebihan Eyang? seolah mereka menganggap, Aku dan mereka berbeda." keluhku dibawah temaram lampu petromaks yang mulai meredup. Eyang hanya mengelus kepalaku pelan. "Tahun depan kamu mondok ya nang, biar paham dengan keadaan." Sahut Eyang. Ah entahlah. Bukankah disini sama saja dengan di pondok?? Toh Aku tetap belajar, ikut musyawarah, sekolah, pun tak pernah absen setoran hafalan nadzom. Aku mengangguk saja. Barangkali memang harus mondok agar Aku tau jawaban dari keganjilan yang mengusik pikiranku saban hari.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • She Is not Cleopatra
  • Aku Tidak Ingin Seperti Ini
  • THREE LITTLE FOXES (END)
  • too beautiful to notice (YananTianjiarui)(END)
  • Pretty Careless
  • My Diary
  • TRAUMATIZED🪽(END)
  • ONLY SIX BOYS
  • GrapicH [✔] JOHNTEN FML

"Ketahuilah, apapun yang menjadikanmu tergetar, itulah yang terbaik untukmu! Dan karena itulah, kalbu seorang pencinta-Nya lebih besar daripada Singgasana-Nya."-Rumi ----- "Tuhan sedang menarikmu menuju apa yang menjadi rencana-Nya," ucapan itu membuat hatiku bergetar. Aku menatap mata coklat gelapnya sembari menahan perihnya darah segar yang mengalir di lengan kananku. Napasku tercegat saat aku menatap hanya debu dan pasir yang betebaran menutup arah penglihatanku. "apa kita bisa kembali?" tanyaku. Mata Zaidan menampakkan kilauan harapan seakan mengatakan "percayalah Tuhan akan mengirimkan seorang malaikat tanpa sayap untuk menolong kita" secara tersirat. Lantas ia mengangguk yakin menatapku. Aku terdiam saat suara itu terdengar jelas di telingaku, "طبيبة" teriakan itu menggema diantara puing-puing bangunan yang begitu memiluhkan. "Aisyah," panggilku memastikan. "ZHAFIRA!!! ZAIDAN!!!" "itu suara Yusuf," gumam Zaidan yang kubenarkan. "begitu dekat untuk meyakinkan hatimu akan bertahan kepada siapa." Aku terdiam tak menanggapi ucapan pria tampan ini. Hatiku kembali diragukan oleh perasaan cinta dan kekaguman pada makhluk-Nya. Ternyata benar apa kata Zaidan, bahwa Tuhan sedang menarikku menuju apa yang direncanakan-Nya. Dan kini adalah waktuku untuk menerima rencana itu dan memutuskan kemana hatiku akan berlabuh. ----- "Teruntuk dia yang ada dalam gemuruh porak porandanya padang pasir dan kisahnya, teruntuk seseorang yang melabuhkan perasaan dan melangitkan doanya dalam sebuah peradaban bumi para nabi. Aku hanyalah seseorang yang berusaha menjadi Kartini untuk menegakkan keadilan bagi perempuan dan menjunjung tinggi kedamaian di dunia. Aku tak memiliki banyak kekuasaan, karena aku bukan termasuk sederet perempuan sempurna Mesir dengan segala pesonanya. Aku bukan Cleopatra." -Zhafira Aisyah Farida-

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan