PEDIH
  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Dec 17, 2020
*Dimohon maklum atas chapternya yg kurang rapi,namanya juga masih belajar.mohon untuk memakluminya .... Salah apa aku sampai harus menanggung beban sebanyak ini? Mengapa semua orang hanya memandang fisik seseorang tanpa tau bagaimana isi dalamnya.Pepata bilang , "jangan menilai buku dari sampulnya"tidak ada gunanya.Toh setiap orang lebih suka menilai dari luar. "Za kalau nanti kamu udah bisa lihat dunia ini,siapa yg akan pertama kali yang mau kamu lihat?".ucap Rita yang menatap Reza lekat. "Yang ingin ku lihat pertama kali di dunia ini, KAMU".ucap Reza sambil mengusap tangan Rita. "Apa kamu yakin ingin melihatku?"ucap Rita "Mengapa setiap kali kau mengucapkan kalimat itu?apa ada yang salah?"ucap Reza. "Za aku wanita yang jelek ,gak punya apa apa di dunia ini"ucap Rita dengan nada lesu. "Aku tak peduli seperti apa dirimu ,tapi yg aku tau kamu wanita baik yang tak pernah mau ninggalin seseorang dalam keadaan berat"ucap Reza sambil mencari keadaan Rita. "Za,apa kamu yakin dengan ucapanmu,apakah dirimu memang benar di takdirkan untuk ku atau ini hanya omong kosong saja"batin Rita cerita pertama aku😊maaf masih banyak kurang nya
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  •  HAZELA
  • TITIK AKHIR.
  • KIARA [END]
  • Shena Aquella {SELESAI}.
  • Resya's Journey Of Life?
  • Sejenak Luka
  • Menyerah atau Bertahan?
  • ALONE
HAZELA

Hazela oleh sweedzz_ Hazela Abraham lahir sebagai seorang kembar, tapi hidupnya tak pernah seimbang seperti seharusnya. Di antara dua wajah yang serupa, hanya satu yang selalu mendapat cahaya. Dan itu bukan dirinya. Sejak kecil, Hazela terbiasa menjadi bayang-bayang Bianca, saudara kembarnya yang sempurna, cerah, dan selalu dicintai semua orang. Termasuk oleh Samudra, lelaki yang Hazela panggil kekasih, namun tak pernah benar-benar membuatnya merasa menjadi satu-satunya. Setiap hari adalah perjuangan. Perjuangan untuk didengar, diperhatikan, bahkan sekadar diakui. Samudra selalu ada... tapi tak pernah untuk Hazela. Hatinya, langkahnya, dan keputusannya, semuanya selalu condong pada Bianca. "Kamu bisa ke kantin sendirian, kan?" Kalimat yang seharusnya biasa, tapi terdengar seperti tamparan ketika disampaikan oleh orang yang kau sebut rumah. Hazela tidak butuh dunia. Ia hanya ingin satu hal: dianggap penting, walau hanya sekali. Ia bukan meminta dunia. Ia hanya memohon tempat kecil di hati seseorang yang katanya mencintainya. "Jadiin aku prioritas kamu, Sa... sekali saja, sebelum aku tidur untuk selamanya." "Kamu prioritas aku, Zel... tapi sekarang, menjaga Bianca lebih penting daripada kamu." Ketika cinta menjadi luka, dan kehadiran menjadi beban, apa yang tersisa dari sebuah hubungan? Akankah kamu tetap bertahan mencintai seseorang yang tak pernah memilihmu? Hazel hanya punya satu permintaan sederhana sebelum segalanya terlambat: "Berikan aku kebahagiaan, sebelum aku pergi. Itu saja."

More details
WpActionLinkContent Guidelines