Awan [biru yang berpijak pada Langitnya]

Awan [biru yang berpijak pada Langitnya]

  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Dec 25, 2020
"Reksa?" "Nama saya." "Katanya nama kamu Langit?" "Langit Antareksa. Awan panggil saya Langit saja ya." "Aku ingin seperti teman-temanmu" "Coba diganti jadi pertanyaan, 'biar apa?'" "Biar apa?" "Biar namanya pantas disandingkan dengan Awan." Awan berdecak, tapi tak bisa menahan senyumnya. "Coba tanya lagi 'biar apa?'" "Biar apa?" "Biar kamu nggak kaya teman-temanku." "Kok? Kamu ngga mau berteman sama aku?" Selanjutnaya tidak ada jawaban, Langit hanya terkekeh yang dilanjutkan dengan kedatangan Arka membawa kopi hitam kesukaan Langit. [Jika dia bukan Langit, Awan tidak mungkin duduk di sini. Dan jika perempuan itu bukan Awan, seluruh dunia juga tahu, Reksa tidak akan sudi berdiam diri. Keduanya jelas tidak suka berbasa-basi, menawar kata hanya untuk memperjelas sebuah makna. Tapi saat ini, mereka hanya Awan dan Langit, yang disandingkan, untuk sama-sama lihat kekacauan bumi] "Lo harus hati-hati, Wan. Reksa galak."
All Rights Reserved
#842
awan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • LANGIT TERBELAH CAHAYA PURNAMA
  • Universe Sky
  • LANGIT [OPEN PRE-ORDER]
  • Delapan Sayap Langit /with SKZ (selesai)
  • AIR MATA AWAN || YU JUNWON
  • SELANG (Senja dan Langit) [TAMAT]
  • LANGIT (On Going)
  • Awan Untuk Pelangi ( SELESAI )
  • Journey
  • ARA (tamat)

Hati yang Setia selalu merunduk-merendah mencari jalan-jalan terang dalam hidup, dan disaatnya LANGIT pasti akan menunjukan jalan Kesetiaannya. Cinta sejati tak akan lekang oleh waktu. Namun akan kembali dengan cara yang menakjubkan. Rakha dan Kinanti bagai layang-layang kembar. Terbang tinggi ke langit menembus awan tertinggi memohon diturunkan Cahaya untuk menerangi hati yang sepi pada Kerinduan yang tidak pernah bertepi. Diatas perahu di Selat Bali, Rakha hanya memandang gerak Langit, senyap dalam doa. Tiba-tiba tampak Langit Terbelah Cahaya Purnama. "Ooh Betapa Agungnya Engkau Maha Tercinta... " Kinanti berjalan menghitung langkah satu demi satu, menatap lembayung senja yang melintasi bebukitan hijau yang mulai menua. "Aishiteru Rakhaaa... Kamu dimana !!!" Langit pun terpaksa menangis... Bersama deru hujan yang datang kejar-mengejar dengan suara Angin yang berhembus kencang. "Kin ! .. KUA terdekat dimana? Bisa nggak kita daftar malam ini juga?" Rakha mulai serius menggoda pada pertemuannya yang baru berselang sekian menit. "Hayu, siapa takut?. Kita cari dulu muka yang tampangnya alim untuk jadi saksi nikah kita ya?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines