Pandangan Pertama

Pandangan Pertama

  • WpView
    Reads 11
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Dec 19, 2020
kringgg!!! Bel istirahat terdengar di penjuru lorong sekolah tidak berselang lama suara bel istirahat tidak terdengar lagi saat para siswa dan siswi keluar dari sarang mereka. Suara riuh berisikpun sudah terdengar dimana mana. "Oi lit!! jajan kekantin kuy" teriak salsa di ambang pintu kelas 9B "ngga deh," sahut seorang siswi perempuan tersebut dan disusul anggukan oleh salsa "hufft bosen" lita yang kini sudah menyesal karna menolak ajakan salsa hanya bisa melihat keluar jendela kelas nya dan sedikit melamun "aduh si any*ng mau kemana maneh!! balikin hp aing" "hahahah makanya teraktir aing dulu dikantin baru nanti aing kasih hp maneh" kata kasar dan di tambah gelak tawa terdengar didepan jendela kelas lita. Lita yang sekarang hanya bisa melihat kedua cowo tersebut bercanda tidak sadar kalo dirinya juga dilihat balik oleh salah satu orang lelaki tersebut "Oi liat apa hah?!" teriak cowo yang diluar jendela "keluar maneh
All Rights Reserved
#36
pandangan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Don't call it love!
  • Fall in love with Ghost
  • Misi Kalisa (End)
  • Kamu
  • Thats my Love
  • Senyawa Abu-abu { F I N I S H }
  • ALNI
  • the other side
  • VAGALDARA [TERBIT]
  • Hidden love At School

Semesta rasanya tidak berpihak pada Cyntia. Tidak hanya perusahaannya yang sedang berada dibawah roda kehidupan, tetapi neneknya sakit dan terus memaksanya menikah. Orang yang ia cintai dan mencintainya pun hilang tak ada kabar. Tak ada pertolongan rasanya. Pada akhirnya pilihan terburuk muncul. Ah, mungkin tak bisa disebut pilihan. Ia harus melakukan itu dengan terpaksa. Pria yang melukiskan kehidupan kelamnya pun muncul. Konyol rasanya saat pria itu mengajaknya menikah. *** Aku tak tahu apa itu cinta. Bahkan, saat ini bagiku itu satu kata yang abstrak luar biasa. Baginya rasa yang terasa itu cinta, tetapi mengapa rasanya merusak jiwa raga. Bagiku itu bukan cinta, melainkan suatu rasa yang amat hampa. Akhirnya satu kata menjadi beda makna. "Bukankah kau sangat membenciku?" Tanyaku. Ia diam, tanpa menatap mataku. Secara tak sadar aku tersenyum sinis padanya dan aku berusaha menahan rasa kesalku. "Apakah melemparkan susu basi ke wajahku adalah bentuk rasa suka?" Aku mengungkit masa lalu. Matanya pun mulai menatap mataku. Aku takut dengan wajah itu. Di bawah meja tersembunyi tangan gemetarku. Mataku berpura-pura tegar saat bertemu matanya itu. Aku berusaha bicara meski lidahku terasa kelu. Aku berusaha berdiri tegak meski kakiku tak berdaya. Waktunya pergi dari hadapannya. Aku akan katakan terakhir kalinya. "Jangan sebut itu cinta!" "Aku melamarmu bukan karena cinta. Bukankah, seharusnya kau yang memohon padaku agar kita bisa memanfaatkan satu sama lain?"

More details
WpActionLinkContent Guidelines