esakara | jung sungchan

esakara | jung sungchan

  • WpView
    LECTURAS 616
  • WpVote
    Votos 53
  • WpPart
    Partes 3
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación lun, dic 21, 2020
Akara ga pernah nyangka bakal bertemu sama seseorang yang udah lama pergi, tanpa diduga ia kembali. Gimana ceritanya Akara ketemu lagi sama Saka yang udah menghilang selama 5 tahun terakhir? Cowok yang dulu Akara bully, karena buta, yang merupakan ketidaksempurnaan fisiknya. Tiba-tiba Saka datang kembali, dengan fisik yang sempurna. Ia bisa melihat, ia tak buta. Jadi siapa yang pembohong disini? Siapa penipu ulung di dunia ini? •-•-• "Lo si buta kan? " "Kata siapa gue buta? " ©® twoforter.
Todos los derechos reservados
#23
orific
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • CERITA KITA S2 [DELSHEL]
  • (Beca)use WhatsApp
  • ℝ𝔼𝕍𝔸𝕃ℤ𝔼ℕ 𝔸𝔼ℝ𝕃𝔸ℕ𝔾𝔾𝔸 //𝑅𝑒𝑣𝑖𝑠𝑖\\
  • Sungchan & Vera {End}
  • Ex or New? [REVISI]
  • ARBIAN [ ON GOING ] √
  • Kenapa Harus Aku?! || Kim Sunoo [END]✓
  • Sergio | Haechan

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido