Ineffable

Ineffable

  • WpView
    Reads 7
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Dec 26, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Kamu tahu bahwa hanya kamu yang dia percaya, baginya kamu memiliki kemampuan untuk menetralisir segala marah yang dia miliki. Bahkan, semakin lama kemampuan mu bertambah hebat. Hal itu dibuktikan dengan setiap dia menangis, dia hanya akan mencari kamu. bersikeras menceritakan apapun agar dirinya merasa sedikit lebih baik, karena dia percaya bahwa kamu tidak akan terganggu dengan hal itu. Bahwa dia percaya bahwa kamulah satu - satunya manusia di planet ini yang bisa dia percaya. Baginya, kamu lebih hebat dari seorang psikolog yang dia temui hari itu, Dia bahkan percaya bahwa hanya kamu yang tidak akan meninggalkan dirinya hanya dari kata - katamu. kamu tahu itu lalu, mengapa hari lalu kamu memeluk keputusan untuk meninggalkannya bahkan tanpa satu tepukan di bahunya agar dia tenang?
All Rights Reserved
#2
clear
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Breathe
  • 15th Voltage [Tegangan 15] ✔(COMPLETED)
  • NUGRAHA
  • Become an Extra or Main Character [END]
  • The Best Friends! Annoying
  • CEIYSA STORY (Completed)
  • 𝐀𝐋𝐈𝐕𝐄
  • BINA
  • Secret Admirer
  • LIKE A FOOL
Breathe

[Trigger warning! Efek yang kalian rasakan setelah membaca cerita ini di luar tanggung jawab dan kuasa penulis.] We all here have our own struggles. Hal tersebut adalah sesuatu yang pasti dalam hidup, yang tidak dapat ditentang lagi. Itu pula yang dirasakan oleh Rome. Ia sama seperti kalian. Ia pun memiliki masalahnya sendiri. Memiliki "luka"-nya sendiri. Tak terhitung berapa banyak goresan yang pernah ditorehkan dunia padanya hingga detik kau membaca kalimat ini. Sampai pada akhirnya, ia tidak dapat merasakan luka itu lagi. Kau tahu? Tingkatan sakit yang paling sakit adalah ketika kau sudah tidak dapat merasakan apa-apa lagi. Dan itulah yang dirasakan oleh Rome. Semuanya terasa kebas. Semuanya terasa begitu biasa. Semuanya terasa bagaikan bagian dari hidupnya yang mustahil untuk dihilangkan. Namun tetap saja, luka itu tidak akan pernah hilang dan akan selalu terasa sakit ketika dunia lagi-lagi menggoresnya. Bukan soal fisik, namun soal jiwanya. "Sometimes you gotta bleed to know that you're alive and have a soul." -Twenty One Pilots-

More details
WpActionLinkContent Guidelines