ANGGAYLA

ANGGAYLA

  • WpView
    Reads 1,351
  • WpVote
    Votes 131
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, May 20, 2026
Adiknya yang satu ini memang minta dikasi pelajaran. "Hai om ganteng, Selamat pagi! Semangat kerjanya ya biar nanti kalo Kayla lulus bisa cepet cepet nikahin Kayla" teriak Kayla sambil mengedipkan sebelah matanya. Setelah itu Devan melajukan motornya dengan kecepatan diatas rata rata, dia sangat malu sekarang. "Emang nggak pernah waras ya lo! Om om aja lo jailin" teriak Devan sambil memukul lengan Kayla "Aw, bwhaha lucu banget anjir komuk nya" ketawa diatas penderitaan seseorang itulah Kayla Sementara pemuda yang menjadi korban pun membatin 'Cewek paling gila yang pernah ia temui' batinya. Hancur sudah harapan memiliki gadis seperti Kayla. Nyatanya Kayla adalah gadis centil. PERHATIAN! ⚠️ Cerita ini mengandung kata-kata kasar dan unsur kebodohan. Pembaca yang baik jangan meniru ya. Kalau ada kata kata yang menyinggung minta maaf ya, mohon perhatian nya. Dan jika kalian nggak asing dengan kata kata yang saya pakai, sebagian aku ngambil dari twitter Untuk alur cerita murni hasil pemikiran saya. Kalau ada kesamaan tokoh, tempat, atau latar itu unsur ketidak sengajaan/kebetulan. Terimakasih Selamat membaca!<3
All Rights Reserved
#123
pembalap
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain's Mother
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Nala dan Mas Juragan
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • The Last Yes!
  • De Andere Weg (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Chasing Sanara
  • Almost Married (END)

Ngintip doang nih? 😗 🔞 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines