Katarsis

Katarsis

  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Dec 27, 2020
"Aku ingin kau bahagia, selalu." "Bukan oleh orang lain. Tapi olehku." "Kehadiran aku saja sudah merupakan kebahagiaan terbesar bagimu. Aku ingin diingat sebagai lelaki yang seperti itu olehmu." "Kau izinkan atau tidak, aku tetap akan melewati garisnya. Dan akan kubuktikan, Bahwa seorang Haruna Dipa Caraka mampu membahagiakan malaikat cantik sepertimu, Kay." "Maukah kau menjadi satu-satunya pendamping hidupku dan akan tetap seperti itu sampai Tuhan sendiri yang memisahkan kita?" "Kau gila Haru.." "Dan diantaranya banyak doa, kenapa aku malah dijatuhkan oleh manusia gila sepertimu." "Aku bersedia." Selamat membaca sebuah kisah misteri yang dibungkus oleh romantisme manusia-manusia bisu rasa.
All Rights Reserved
#14
katarsis
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Grey Of SAKARUNA
  • Aku, Kamu, dan Takdir Tuhan
  • Narasi patah hati
  • You Remember Me Or Forget Me?...
  • Laskar Pemimpi || NCT Dream (on going)
  • ALTHAZAIN
  • Happy Ending
  • Arsyilazka
  • Poison Of Love

Entah siapa yang bisa benar-benar menebak apa yang ada di pikirannya? Kadang, aku merasa kami sedekat nadi-tak terpisahkan oleh ruang atau waktu. Namun, di lain waktu, rasanya seperti tak pernah ada apa-apa di antara kami. Dia melenggang ke sana kemari, seolah aku tak lebih dari bayang-bayang yang tak terlihat. Tapi anehnya, di saat tertentu, dia menggeliat di sisiku, seperti tak akan bisa bertahan hidup tanpa kehadiranku. Hingga kini, aku masih tak tahu apa yang sebenarnya ada di dalam pikirannya. Keluh kesahnya, tawa kecilnya, dan tingkah manjanya yang dulu terasa akrab kini hilang begitu saja, bagai debu yang diterbangkan angin. Dua belas tahun kebersamaan kami, mengapa rasanya bisa terhapus hanya dalam tiga tahun? Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa segalanya memang memiliki waktunya masing-masing. Bahwa perubahan ini bukanlah sesuatu yang luar biasa. "Ini bukan masalah besar," gumamku berkali-kali. Namun, hati kecilku tak pernah benar-benar berhenti bertanya, mengapa? Hal yang paling membuatku kesal adalah kebiasaannya yang kini berubah menjadi teka-teki. Dia datang kepadaku, tapi hanya ketika dia butuh. Saat lapar menghampirinya, saat kesedihan melingkupinya, atau ketika kebosanan menjeratnya. Dia akan muncul tiba-tiba, menghancurkan keteraturanku, mengacak-acak ketenanganku, lalu pergi tanpa sepatah kata pun. Maksudnya apa? Aku benci dibuat bingung seperti ini. Aku benci bagaimana dia membuatku merasa diperlukan, hanya untuk kemudian membuatku merasa tak berarti. Namun di balik semua rasa kesalku, aku tak bisa mengingkari satu hal: aku tetap menunggunya. Dia adalah Saka, sebuah misteri yang tak pernah bisa kuselesaikan.

More details
WpActionLinkContent Guidelines