SANG PEMBELAH KEPALA

SANG PEMBELAH KEPALA

  • WpView
    Reads 21
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Dec 28, 2020
Seorang lelaki yang tinggi, berbadan kekar, menyandang tas, dengan penuh gelora berjalan menepis setiap onak dan duri. Melangkah penuh semangat untuk membelah setiap kepala yang ditemuinya kemudian mengganti isinya. Suara jeritan memecah keheningan ketika satu persatu kulit kepala berangsur terbelah, namun perlahan menghilang hingga ketenangan datang menyambangi. Puluhan mata terheran seakan menyayat peristiwa yang baru saja mereka saksikan. Ratusan lidah menjadi keluh dan tak kuasa mengusik hening, tiada sanggah yang pantas menghentikan peristiwa itu, sebab itu adalah kebenaran. "Wahai kau lelaki berkulit hitam!!! mengapa kau lukai kepala yang telah lama diwariskan oleh tetua kami.?" puluhan pasang mata berusaha membelenggu lelaki itu untuk menjawab pertanyaan ini. Namun tidak sedikitpun ia menggubris suara yang terdengar menyayat telinganya. Satu persatu kepala telah terbelah, jeritan demi jeritan, tangisan demi tangisan menghampiri lelaki itu yang terus melangkah tanpa peduli. Hingga langkahnya mulai gontai dan tak berdaya, tangannya terasa kaku, tatapannya yang tajam mulai meredup, kerongkongannya seperti terbakar, seluruh persendiannya seperti terpisah. Tiada yang peduli dengan hal itu.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Senja Termendung
  • Di Balik Wajah yang Tak Menawan (End)
  • [END] Peach
  • SINGASARI, I'm Coming! (END)
  • ABIAN HALA
  • Pendekar Dari Pajajaran
  • Lain Dunia (Tamat)

Di bawah lapisan hangat seragam putih biru kusut, Senja Gitarja, sang pahlawan bagi dirinya sendiri kini hadir di dalam gelap dinaungi serigala bertubuh tinggi besar, berseibo hitam berlapis topeng. Benar, serigala-serigala itu bagai manusia yang ia jumpai semasa masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, di pagi hingga siang hari yang terhitung panjang. Dalam tundukan kepala yang penuh gelap dan rasa ketidakdilan. Pantaskah mereka yang buruk didekap kehangatan bagai tak punya rasa bersalah sama sekali? Pantaskah kesalahan seluas samudra menciut hingga tak terlihat bagai sebutir debu? Pantaskah kebaikan tertutup salju tebal lalu hilang entah kemana sebab buah hasut-menghasut para bedebah? Pantaskah kami, para manusia-manusia yang hanya punya pendirian diri tak disanjung sama sekali oleh dunia? Lalu pantaskah mereka yang tangannya kotor bak membunuh temannya sendiri di hutan belantara yang gelap dan sedikit udara, bermain dengan kehangatan yang kami impi-impikan? Berapa banyak manusia yang akan kau samakan nasibnya sama seperti kita-kita ini, bedebah? 2 bulan menuju kelulusan ialah bulan-bulan kami para 'yang disingkirkan' untuk menikmati api panas yang dicipta oleh mereka. Tolong, bertahan sebentar untuk ini, 6 kawanku. Kelak di hari kelulusan tiba kita berlomba-lomba jadi juara berpredikat orang paling bahagia di dunia.

More details
WpActionLinkContent Guidelines